Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata Usai Serangan di Selat Hormuz

- Senin, 20 April 2026 | 01:30 WIB
Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata Usai Serangan di Selat Hormuz

Pantau - Lewat unggahan di Truth Social, Donald Trump tak ragu menuding Iran. Mantan Presiden AS itu menyebut Teheran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Tudingannya muncul menyusul insiden penembakan di Selat Hormuz yang terjadi sehari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu, 18 April 2026.

Trump menulis dengan nada khasnya pada Minggu, 19 April 2026. "Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin Sabtu di Selat Hormuz. Pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata kami," tulisnya.

Dia melanjutkan, "Banyak di antaranya ditujukan ke kapal Prancis dan kapal kargo dari Inggris. Itu tidak baik, bukan?"

Memang, laporan-laporan yang beredar menyebutkan ada dua kapal komersial yang diserang. Serangan itu terjadi saat mereka melintasi selat yang sempit itu, tak lama setelah Iran mengumumkan kontrol militer penuh atas jalur tersebut. Situasinya jadi makin panas.

Ini jelas bikin banyak pihak cemas. Selat Hormuz bukan sembarang jalur air. Dia adalah urat nadi perdagangan energi global, tempat sebagian besar minyak dunia mengalir. Gangguan sedikit saja, gejolaknya terasa ke mana-mana.

Ketegangan ini, sejujurnya, sudah mengendap lama. Akar masalahnya bisa ditelusuri dari serangan AS dan Israel sebelumnya terhadap target di Iran, yang konon menimbulkan kerusakan dan, yang memilukan, korban di kalangan sipil. Gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April lalu dan direncanakan berlaku dua pekan, terasa rapuh sejak awal.

Upaya perundingan sempat diupayakan. Para pihak bahkan bertemu di Islamabad, Pakistan, pada 11 April. Sayangnya, pembicaraan itu mentok, belum ada titik terang yang final. Di sisi lain, Amerika Serikat juga disebut-sebut memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran, sebuah langkah yang tentu saja menambah rumit keadaan.

Meski begitu, harapan untuk meredakan situasi belum sepenuhnya padam. Sejumlah aktor internasional dikabarkan masih aktif menjajaki mediasi. Mereka berupaya keras untuk membawa semua pihak kembali ke meja perundingan, sebelum situasi yang sudah pelik ini benar-benar meledak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar