Impor minyak mentah China tercatat anjlok hingga 38 persen pada Mei 2026, menjadi hanya 6,6 juta barel per hari (bph), turun drastis dibandingkan rata-rata impor sepanjang tahun lalu yang mencapai lebih dari 10 juta bph. Data dari firma riset Vortexa menunjukkan penurunan ini merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan dampak langsung dari konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Menurut data firma riset Kpler, laju impor minyak China terus merosot sejak lumpuhnya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pada April 2026, impor minyak China tercatat masih berada di angka 8 juta bph. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan volume sebelum perang pecah pada Februari, yang mencapai sekitar 11 juta bph.
Sebelum konflik meletus, selama lebih dari setahun, China gencar membeli minyak mentah dalam jumlah besar, jauh melampaui kebutuhan konsumsi domestiknya. Langkah ini ditempuh dengan memanfaatkan harga yang stabil serta diskon signifikan untuk minyak mentah dari Rusia dan Iran yang sebelumnya terkena sanksi internasional. Akibatnya, China diperkirakan telah menimbun minyak mentah dengan laju hingga 1 juta bph sepanjang tahun lalu.
Meskipun pemerintah China tidak secara resmi melaporkan angka persediaan minyak, para analis memperkirakan cadangan strategis negara itu kini mencapai sekitar 1 miliar barel. Perkiraan tersebut dihitung berdasarkan selisih antara data impor dan tingkat pengoperasian kilang minyak dalam negeri. Cadangan inilah yang kini dimanfaatkan perusahaan-perusahaan kilang China untuk menutupi kekurangan pasokan akibat terganggunya rantai pasok global.
Di sisi lain, pengurangan impor minyak China dan penggunaan besar-besaran cadangan strategisnya dinilai telah membantu meredam lonjakan harga minyak mentah dunia. Menurut sejumlah analis, tanpa langkah tersebut, tekanan harga di pasar internasional kemungkinan akan jauh lebih besar. Harga minyak Brent sempat menembus angka 120 dolar AS per barel, namun kemudian stabil di kisaran 100 dolar AS per barel pada bulan lalu.
Minyak yang tidak lagi dibeli China pun berpotensi mengalir ke negara-negara lain, terutama yang tidak memiliki cadangan sebesar Negeri Tirai Bambu. Kondisi ini memberikan sedikit ruang bagi pasar global untuk menyesuaikan diri di tengah ketidakpastian pasokan yang masih tinggi.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo: Wujudkan Kehidupan Layak Rakyat Butuh Kerja Keras di Semua Bidang
Produksi Gandum Australia Diprediksi Anjlok 26 Persen Akibat Lonjakan Harga Pupuk Imbas Konflik Timur Tengah
Polri Mediasi Sengketa PHK 131 Pekerja, Perusahaan Bayar Kompensasi Rp10 Miliar
AS Naikkan Level Ancaman Intelijen Israel ke ‘Kritis’ Akibat Dugaan Spionase terhadap Pejabat Tinggi Washington