Harga saham PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) belakangan ini memang sedang jadi perhatian. Pergerakannya yang meningkat signifikan bahkan memicu status Unusual Market Activity (UMA) dari Bursa Efek Indonesia. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Menanggapi hal ini, Direktur Utama MSIN, Angela Tanoesoedibjo, buka suara. Dalam sebuah public expose insidentil yang digelar virtual Kamis lalu (16/4/2026), Angela menyebut bahwa volatilitas harga saham itu tak lepas dari rencana besar perseroan.
"Manajemen mencermati bahwa pergerakan tersebut terjadi seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap berbagai langkah strategis perseroan, termasuk rencana untuk melakukan secondary listing di luar negeri," ujar Angela.
Rupanya, niat untuk go internasional ini sudah dapat restu. Perseroan telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 8 April 2026 yang lalu.
Dalam RUPSLB itu, disetujui sejumlah langkah penting. Mulai dari perombakan susunan pengurus, penyesuaian laporan keuangan untuk tahun buku 2023 dan 2024, hingga perubahan anggaran dasar. Semua itu, kata Angela, adalah bagian dari persiapan matang.
"Langkah-langkah korporasi yang sedang dilakukan saat ini merupakan bagian dari persiapan pencatatan saham di bursa luar negeri dengan tujuan yaitu memperluas basis investor, meningkatkan visibilitas perseroan secara global, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham," kata Angela.
Namun begitu, ambisi global ini ternyata punya pondasi yang cukup kuat di dalam negeri. Fundamental keuangan MSIN sepanjang 2025 menunjukkan tren yang sangat positif.
Direktur MSIN, Rudy Hidayat, memaparkan datanya. Perseroan berhasil membukukan pendapatan Rp3,8 triliun sepanjang tahun lalu. Angka itu tumbuh 18 persen dibandingkan realisasi di 2024.
Pendapatan itu ditopang terutama oleh segmen content IP and others yang menyumbang Rp2,1 triliun. Disusul kemudian oleh subscription senilai Rp869 miliar, dan online advertising sebesar Rp856 miliar.
Yang menarik, pertumbuhan pendapatan ini berjalan beriringan dengan peningkatan efisiensi. Hal itu tercermin dari capaian EBITDA perseroan yang melonjak 33 persen secara tahunan menjadi Rp1,03 triliun.
Tapi, loncatan paling fantastis justru ada di laba bersih. Sepanjang 2025, net income MSIN tercatat Rp985 miliar. Sebuah kenaikan yang sangat tajam, mencapai 140 persen jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.
"Net income tahun 2025 sebesar Rp985 miliar, naik 140 persen dibandingkan dengan tahun 2024," kata Rudy menegaskan.
Jadi, di balik gejolak harga saham yang menarik perhatian BEI, ada kombinasi antara strategi ekspansi ke depan dan kinerja keuangan yang solid di belakang. Pasar tampaknya sedang menilai ulang prospek MSIN yang kini tak hanya berfokus di dalam negeri.
Artikel Terkait
28 Saham Mid-Big Cap Catat PBV di Bawah 1, Sinyal Value Investing?
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Potensi dan Risiko Waran Terstruktur
Grup Bakrie Pacu Restrukturisasi Modal Lewat Rights Issue dan Private Placement
IHSG Melonjak 0,82%, Sektor Keuangan Satu-satunya yang Melemah