Barang kiriman jamaah haji Indonesia masih didominasi oleh produk garmen. Abaya dan gamis, misalnya, masih menduduki posisi teratas. Hal ini terungkap dari data fasilitas kepabeanan yang diberikan pemerintah untuk jemaah.
Namun begitu, pemanfaatan kemudahan ini rupanya belum maksimal. Cindhe Marjuang Praja dari Direktorat Teknis Kepabeanan Bea Cukai mengaku melihat tren yang sama dari tahun ke tahun.
“Kalau kita kategorikan dari 10 besar, yang paling banyak itu garmen, termasuk abaya, gamis. Kemudian juga ada sajadah dan karpet,” ujar Cindhe dalam sebuah briefing virtual, Kamis lalu.
Angkanya cukup jelas. Komoditas garmen menyumbang devisa sekitar USD 643.920, atau setara 32,5 persen dari total kiriman. Posisi kedua ditempati karpet dengan nilai USD 391.724. Lalu ada makanan kering, seperti cokelat, yang menyusul di belakangnya.
Di sisi lain, ada satu kategori yang cukup mengejutkan: parfum. Nilainya mencapai USD 139.342 dan masuk dalam komoditas yang signifikan.
“Kemudian yang cukup banyak juga adalah parfum,” tambah Cindhe, mengonfirmasi data tersebut.
Padahal, fasilitas yang diberikan pemerintah sebenarnya cukup menggiurkan. Jamaah haji mendapat pembebasan bea masuk dan pajak untuk kiriman barang, dengan batas maksimal dua kali pengiriman. Masing-masing kiriman boleh bernilai hingga USD 1.500, sehingga totalnya bisa mencapai USD 3.000 per musim haji.
Tapi nyatanya, dari lebih dari 200.000 jamaah haji Indonesia, hanya sekitar 17.232 orang yang memanfaatkannya tahun lalu. Angka itu belum sampai 10 persen, jauh dari harapan.
“Jadi yang memanfaatkan fasilitas pengiriman ini masih sekitar belasan ribu saja. Masih sangat kecil,” jelas Cindhe.
Lalu, bagaimana kalau kirimannya melebihi batas? Cindhe menerangkan, kelebihannya akan dikenai bea masuk flat sebesar 7,5 persen, plus PPN yang berlaku. Proses pengirimannya sendiri bisa lewat PT Pos Indonesia atau jasa titipan swasta macam DHL.
Dari segi pintu masuk, volume terbesar tercatat melalui KPPBC Kantor Pos Pasar Baru dengan nilai kiriman mencapai 1,68 juta dolar AS. Sementara, kiriman melalui Bandara Soekarno-Hatta jumlah dokumennya lebih sedikit, meski nilainya juga cukup besar.
Jadi, meski gamis dan abaya masih jadi primadona, peluang untuk memaksimalkan fasilitas ini ternyata masih sangat terbuka lebar.
Artikel Terkait
Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari Setelah Pertempuran Sengit
Gubernur BI Soroti Tiga Pilar Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global
Timnas Putri U-17 Akan Berlatih di Pusat Elite Clairefontaine Prancis
Donasi Indonesia untuk Korban Perang Iran Tembus Rp9 Miliar