Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada awal Juni 2026, dengan sejumlah sentimen makroekonomi domestik dan ketegangan geopolitik global menjadi faktor penentu utama arah pergerakan bursa saham nasional.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai posisi IHSG secara teknikal masih rentan terhadap tekanan minor. Pelaku pasar, menurut dia, akan membagi perhatian pada sejumlah data fundamental dan kebijakan baru yang mulai diterapkan pemerintah.
“Kami perkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dengan support 6.071 dan resist 6.161,” ujar Herditya dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).
Herditya yang akrab disapa Didit itu menambahkan, pergerakan modal di pasar saham domestik dalam waktu dekat akan sangat sensitif terhadap rilis indikator perekonomian nasional serta stabilitas global. Ia menyebut investor akan mencermati data inflasi Indonesia dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
“Di sisi lain, nilai tukar rupiah dan implementasi DHE SDA tahap awal juga menjadi perhatian investor,” pungkasnya.
Proyeksi koreksi IHSG ini melanjutkan tren pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 25–29 Mei 2026 yang ditutup bervariasi. Meski indeks utama melemah, rata-rata nilai transaksi harian justru mencatat lonjakan signifikan di tengah maraknya aksi jual bersih oleh investor asing.
Rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan melonjak 30,37 persen menjadi Rp28,38 triliun, dibandingkan pekan sebelumnya yang sebesar Rp21,77 triliun. Kenaikan ini turut mendorong kapitalisasi pasar BEI naik 0,88 persen, dari Rp10.635 triliun menjadi Rp10.729 triliun pada penutupan pekan lalu.
Namun demikian, IHSG sendiri terkoreksi 0,56 persen ke level 6.127,381, turun dari posisi penutupan pekan sebelumnya di 6.162,045. Aktivitas perdagangan pun melambat secara frekuensi harian sebesar 10,87 persen menjadi 2,11 juta kali transaksi, dari sebelumnya 2,37 juta kali transaksi. Rata-rata volume transaksi harian juga menyusut 15,6 persen menjadi 30,95 miliar lembar saham, dibandingkan capaian minggu sebelumnya yang mencapai 36,67 miliar lembar saham.
Sementara itu, tekanan jual dari investor asing masih berlanjut secara masif. Pada perdagangan akhir pekan, 29 Mei 2026, investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp8,519 triliun. Secara akumulatif sejak awal tahun, total nilai jual bersih asing di pasar modal Indonesia telah menembus angka Rp53,971 triliun. Aliran modal keluar ini disinyalir menjadi salah satu faktor yang menahan laju penguatan indeks menuju level resistansinya.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak 4 Persen Setelah Iran Disebut Hentikan Negosiasi dengan AS dan Ancam Blokade Selat Hormuz
Analis: Risiko Penghapusan AMMN dan BRMS dari Indeks Emas Global GDX Terbatas Meski Ada Aturan Free Float Baru
Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Optimisme Negosiasi AS-Iran dan Chip AI Nvidia
Wall Street Terbelah di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Lonjakan Saham Nvidia