Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT United Tractors Tbk (UNTR) yang digelar Kamis (16/4/2026) akhirnya menghasilkan keputusan. Perusahaan raksasa alat berat itu akan membagikan dividen final untuk tahun buku 2025. Nilainya mencapai Rp1.096 untuk setiap lembar saham.
Presiden Direktur UNTR, Iwan Hadiantoro, membeberkan rinciannya. Total dividen untuk tahun 2025 ini sebenarnya mencapai Rp1.663 per saham. Sebelumnya, perseroan sudah lebih dulu membagikan dividen interim senilai Rp567 per saham pada Oktober tahun lalu.
"Sehingga sisanya sebesar Rp1.096 setiap saham akan dibagikan kepada pemegang saham perseroan yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada tanggal 28 April 2026 pukul 16.00 WIB,"
Iwan menyampaikan hal itu dalam konferensi pers usai RUPST di Jakarta. Namun begitu, ada catatan penting. Nilai total dividen tunai yang akhirnya dibayarkan bisa saja berubah.
"Sehubungan dengan program pembelian kembali saham (shares buyback) perseroan yang sedang berlangsung, jumlah total dividen tunai yang dibagikan akan bergantung pada jumlah total saham yang berhak menerima dividen berdasarkan Daftar Pemegang Saham perseroan pada Recording Date Dividen,"
Jadi, semuanya bergantung pada berapa banyak saham yang beredar saat program buyback berjalan. Jika rencana tak ada aral melintang, pemegang saham bisa mencairkan dividen final ini pada 18 Mei 2026 mendatang. Dana sebesar ini tentu bukan main-main, totalnya bisa mencapai Rp5,92 triliun. Sumbernya berasal dari laba bersih konsolidasian perseroan tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp14,8 triliun.
Di sisi lain, rapat hari ini juga tak hanya membahas dividen. Ada perombakan di tubuh manajemen. Jajaran Direksi dan Dewan Komisaris UNTR mengalami perubahan untuk periode jabatan mulai hari ini hingga RUPST tahun 2027 nanti.
Iwan Hadiantoro tetap memegang tampuk Presiden Direktur. Sementara di jajaran direksi, nama-nama seperti Idot Supriadi, Widjaja Kartika, dan Vilihati Surya masih bertahan. Di Dewan Komisaris, Frans Kesuma ditetapkan sebagai Presiden Komisaris, didampingi sejumlah nama seperti Paulus Bambang Widjanarko, Ignasius Jonan, dan Lincoln Lin Feng Pan.
Lalu, bagaimana sebenarnya kinerja UNTR sepanjang 2025? Ternyata, laba bersih perseroan mengalami penurunan. Angkanya ada di Rp14,81 triliun, turun dibandingkan capaian Rp19,53 triliun di tahun 2024. Kalau dirinci per saham, laba bersihnya setara dengan Rp3.970,48.
Menurut laporan keuangan yang dirilis akhir Februari lalu, penurunan ini dipicu beberapa hal. Cuaca jadi salah satu faktornya. Curah hujan yang tinggi sempat mengganggu operasi segmen kontraktor penambangan. Tak hanya itu, kinerja segmen batubara termal dan metalurgi juga melemah, terutama karena harga jual yang lebih rendah di pasaran.
Wajar saja, pendapatan bersih konsolidasian UNTR pun ikut terdampak. Angkanya turun tipis 2 persen menjadi Rp131,3 triliun pada 2025, dari sebelumnya Rp134,4 triliun di tahun 2024.
Meski begitu, kontribusi terbesar pendapatan masih datang dari segmen andalan. Segmen Kontraktor Penambangan menyumbang Rp54,1 triliun, disusul oleh Mesin Konstruksi dengan Rp36,6 triliun. Sementara Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi menyumbang Rp24,2 triliun, serta Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya sebesar Rp14,0 triliun.
Jadi, di tengah tantangan pasar yang tak mudah, UNTR tetap berupaya membagi hasil ke pemegang saham. Perombakan jajaran direksi dan komisaris mungkin juga jadi bagian dari strategi menyambut tahun-tahun berikutnya yang penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
BEI Cabut Suspensi Saham UDNG, Perdagangan Kembali dengan Pengawasan Khusus
PJAA Bagikan Dividen Rp41,67 Miliar, Pencairan Mei 2026
PT Penajam Makmur Jaya Resmi Kuasai 71,22% Saham BIKE
Pemerintah dan Rusia Bahas Rencana Pembangunan Gudang Penyimpanan Minyak di Sumatera