Hebatnya, proyek ini bahkan membawa nama Waskita Karya melenggang ke kancah internasional. Mereka jadi finalis Bentley’s Going Digital Awards Year in Infrastructure 2025 di Amsterdam. Penilaiannya sih sederhana: inovasi digital yang diterapkan di proyek ini dinilai mampu mendongkrak efisiensi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan proses konstruksi.
Ermy menjelaskan, membangun transportasi massal di kota sepadat Jakarta memang butuh pendekatan yang nggak biasa. Tantangan teknis di lapangan bisa datang dari mana saja.
"Kami pakai platform digital terintegrasi yang menggabungkan data spasial, model BIM, dan jadwal kerja dalam satu sistem. Tujuannya jelas, agar seluruh tim bisa akses informasi dengan mudah dan ambil keputusan lebih cepat," tuturnya.
Metode itu rupanya cukup jitu. Perusahaan mengklaim berhasil mengidentifikasi dan menyelesaikan lebih dari 1.200 potensi masalah bahkan sebelum konstruksi dimulai. Simulasi 4D yang diterapkan bukan cuma soal keselamatan, tapi juga mendorong efisiensi dan presisi kerja di lapangan.
Tak bisa dipungkiri, penyelesaian proyek ini sangat dinanti warga Jakarta. Harapannya besar: mengurangi kemacetan yang sudah akut dan sekaligus menekan jejak karbon demi kualitas udara yang lebih baik.
"Komitmen kami tetap. Waskita Karya akan terus mendukung hadirnya sistem transportasi publik yang andal, aman, nyaman, dan tentu saja berkelanjutan," pungkas Ermy.
Artikel Terkait
Stok Beras Pemerintah Tembus 3,36 Juta Ton, Bapanas: Tak Perlu Impor
Pipa Bawah Laut Balikpapan Hidup, Pasokan Energi Indonesia Timur Diperkuat
Gambir Indonesia Kuasai 80% Pasar Dunia, Tapi Untung Besar Dinikmati India
Januari 2026, Pemerintah Gelar Lelang Sukuk Rp11 Triliun untuk Perdalam Pasar Syariah