Reformasi Tata Kelola Jadi Kunci Perbaikan BUMN, Bukan Sekadar Direktur WNA
Wacana pengangkatan Warga Negara Asing (WNA) sebagai direktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menuai beragam tanggapan. Menurut ekonom Achmad Nur Hidayat, isu ini seharusnya tidak dilihat dari sisi kewarganegaraan semata, melainkan dari aspek reformasi tata kelola dan struktural di dalam BUMN itu sendiri.
Debat Kompetensi vs Tata Kelola BUMN
Kebijakan pemerintah membuka peluang ekspatriat memimpin BUMN harus dinilai proporsional. Tujuannya adalah untuk memperkuat kompetensi dan memperkaya perspektif manajemen, bukan sebagai solusi ajaib untuk memperbaiki kinerja seluruh BUMN. Achmad menegaskan bahwa inti persoalannya bukan pada paspor, melainkan pada tata kelola, budaya organisasi, dan sistem insentif yang berlaku.
"Retorika yang menempatkan WNA sebagai juru selamat justru menutupi akar masalah sebenarnya," ujar Achmad.
Tantangan Utama BUMN: Insentif dan Budaya Proteksi
Menurut analisisnya, tantangan utama BUMN bukanlah kurangnya talenta nasional, melainkan struktur insentif yang keliru dan budaya proteksi. Dalam analoginya, BUMN diibaratkan sebagai pasien yang sakit karena pola hidup yang salah, seperti model bisnis tidak efisien, minim inovasi, dan tata kelola lemah.
"Mengganti direksi dengan WNA tanpa membenahi struktur dasar tidak akan menyembuhkan BUMN," tegasnya.
Artikel Terkait
Delapan Kantong Jenazah Ditemukan di Hari Kedelapan Pencarian Korban Longsor Pasirlangu
Duel Panas Indonesia vs Vietnam di Perempatfinal Piala Asia Futsal
Dari Bandung ke Swedia: Riyanti dan Lika-Liku Perjalanan yang Tak Terduga
OJK Tunjuk Friderica Widyasari Dewi Isi Posisi Kosong Dewan Komisioner