Medan diguncang sebuah kasus yang sukar dipercaya. Seorang anak, masih duduk di bangku SD, diduga menusuk ibu kandungnya sendiri hingga tewas. Polisi pun bergerak cepat. Untuk menguak tabir peristiwa tragis ini, Polrestabes Medan menggelar apa yang mereka sebut pra rekonstruksi.
Ini bukan yang pertama. Mereka sudah melakukannya sekali sebelumnya di markas mereka. Namun, pada Minggu (14/12/2025) lalu, pra rekonstruksi kedua digelar. Prosesnya panjang, makan waktu sekitar enam jam, dengan memeragakan puluhan adegan. Yang menyita perhatian, terduga pelaku berinisial AL (12) itu tak sendirian. Ia selalu didampingi seorang psikolog dan petugas perlindungan anak, mengingat usianya yang masih sangat belia.
"Kurang lebih 6 jam, tim telah melaksanakan pra-rekonstruksi kedua," kata Kapolrestabes Medan, Kombes Calvijn Simanjuntak.
Ia berharap langkah ini bisa menyempurnakan penyelidikan. Motif apa yang mendorong seorang bocah melakukan hal mengerikan seperti ini? Selain rekonstruksi, polisi juga kembali menyisir TKP. "Ada beberapa barang-barang yang kami bawa untuk didalami," jelas Calvijn lagi.
Semua ini berawal dari sebuah pagi yang sunyi di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo. Rabu (10/12/2025) itu, sekitar pukul lima pagi, teriakan minta tolong membuyarkan kesunyian. Sang anak sulung menemukan ibunya, Faizah Soraya (42), tergeletak tak bernyawa di tempat tidur. Tubuhnya penuh tusukan konon sampai dua puluh kali dan darah berceceran di lantai.
Mendengar teriakan itu, sang ayah yang tidur di lantai dua langsung turun. Kacau. Ia segera menghubungi rumah sakit. Tapi semua sudah terlambat. Faizah dinyatakan meninggal dunia. Kepala Lingkungan setempat, Tono, kemudian dihubungi untuk menelepon polisi.
"Si suami tidur di lantai dua. Kalau istri dan dua anaknya tidur di lantai satu," ujar Tono, menggambarkan susunan keluarga malam itu. "Itu di lantai kamar saya lihat sudah bersimbah darah."
Namun begitu, cerita ini tak sesederhana itu. Di balik dinding rumah itu, tersimpan kisah lain yang mulai mencuat ke permukaan. Keluarga korban, lewat berbagai unggahan di media sosial, menyuarakan kecurigaan yang sama sekali berbeda. Mereka sulit menerima narasi bahwa AL, anak kelas 6 SD, bisa melakukan pembunuhan sedahsyat itu sendirian.
Perhatian mereka justru tertuju pada sang suami, Alham Wumala Siagian.
Menurut saudara korban, Dimas, rumah tangga Faizah dan Alham sudah lama retak. "Dalam 5 tahun terakhir suami korban doyan selingkuh dan diduga ada hutang (mungkin akibat judol atau judi online)," tulisnya. "Sebagai seorang manager di Telkomokondo beberapa kali ketahuan selingkuh."
Faizah disebutkan menolak bercerai karena trauma masa kecilnya sendiri. Akibatnya, pertengkaran kerap terjadi dan mereka sudah pisah ranjang. Seorang kerabat lain yang mengaku keluarga korban juga menulis panjang lebar di kolom komentar sebuah akun berita.
"Izin klarifikasi karena ini keluarga saya," tulis akun @pakdebrewok2122. "Kami sekeluarga gak percaya... logika aja gak teriak mamaknya klok gak di bekap."
Kecurigaan keluarga ini menyoroti alibi sang ayah, yang mengaku tidur di lantai dua dan tidak mendengar apa-apa. Mereka mempertanyakan, bagaimana mungkin seorang anak kecil punya tenaga dan keberanian untuk menusuk berkali-kali tanpa ada perlawanan atau jeritan.
Spekulasi yang berkembang membuat kasus ini makin rumit. Menyikapi hal ini, praktisi hukum Dwi Ngai Sinaga mendesak agar penyidikan dilakukan dengan kehati-hatian ekstra. "Kami sangat meragukan bagaimana kemampuan seorang anak bisa melakukan hal ini dengan kekuatan tenaga orang dewasa," tegas Ketua Peradi Kota Medan itu.
Ia meminta agar pemeriksaan hanya melibatkan polwan yang didampingi psikolog, untuk melindungi jiwa anak yang masih rentan. Tekanan kini ada di pundak penyidik. Mereka dituntut tak hanya cermat mengumpulkan bukti fisik, tetapi juga jeli membaca dinamika keluarga yang mungkin menjadi kunci sebenarnya dari tragedi ini.
Medan menunggu kejelasan. Sementara seorang anak berusia 12 tahun harus menghadapi proses hukum yang berat, di tengah desas-desus dan duka keluarga yang terbelah.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor