“Harus transparan sehingga pasar percaya bahwa ekonomi itu dikelola dengan baik," tegasnya.
Di sinilah faktor non-teknis memainkan peran besar. Lembaga donor harus yakin dana tidak disalahgunakan. Kepercayaan global ini, kalau diraih, dampaknya langsung terasa. Modal asing yang semula kabur, pelan-pelan akan kembali masuk.
"Nah itu yang betul-betul harus kita jaga image itu. Karena Indonesia ini kan sebenarnya bagus. Ekonominya ya bagus untuk investasi. Bagusnya ini harus dikembalikan gitu. Jadi uang dari luar itu harus kembali. Kembali ke Indonesia," tuturnya lagi.
Begitu kepercayaan pulih, pola pikir masyarakat berubah. Mereka tak lagi buru-buru menukar rupiah dengan dolar. Sebaliknya, mereka mulai memegang rupiah lagi untuk transaksi dan investasi. Permintaan naik, nilai tukarnya pun otomatis terdongkrak.
Ginandjar juga menyoroti satu hal krusial: koordinasi. Sinergi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, misalnya, adalah faktor penentu lain. Kerja sama yang solid membangun kredibilitas di mata pasar.
Ketika kebijakan terlihat konsisten dan terkoordinasi dengan baik, kepercayaan itu akan tumbuh kembali. "hasil ini dapat dicapai dalam waktu relatif singkat karena adanya konsistensi kebijakan," tambahnya.
Pengalamannya di masa lalu memang berat. Dalam bukunya, Ginandjar bercerita bagaimana ia dipercaya Presiden B.J. Habibie untuk memimpin pembenahan ekonomi saat negara nyaris kolaps. Rupiah jatuh, inflasi melambung, perbankan ambruk, utang swasta menumpuk, dan kemiskinan merajalela.
Tugasnya waktu itu luar biasa kompleks. Mulai dari menangani likuiditas, merestrukturisasi perbankan, bernegosiasi dengan IMF, menjaga stok bahan pokok, hingga meredam gejolak sosial. Intinya, mengembalikan kepercayaan internasional yang nyaris hilang sama sekali. Sebuah pelajaran berharga bahwa di tengah badai krisis, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga.
Artikel Terkait
Arab Saudi Resmi Tutup Visa Haji Furoda untuk Tahun 2026
Pemerintah Izinkan Maskapai Naikkan Fuel Surcharge hingga 38% Imbas Harga Avtur Melonjak
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions