Ginandjar Kartasasmita: Kunci Pulihkan Rupiah Bukan Cetak Uang, Tapi Kepercayaan

- Kamis, 09 April 2026 | 22:40 WIB
Ginandjar Kartasasmita: Kunci Pulihkan Rupiah Bukan Cetak Uang, Tapi Kepercayaan

Selasa pekan lalu, tepatnya 7 April 2026, rupiah benar-benar terpuruk. Nilainya terjun bebas ke level Rp17.105 per dolar AS. Posisi ini, bagi yang masih ingat, adalah yang terburuk sejak badai krisis moneter melanda negeri ini di tahun 1998. Kala itu, rupiah sempat terperosok hingga Rp16.800 per USD.

Merespon pelemahan ini, Mantan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita angkat bicara. Ia menegaskan, setiap krisis punya karakter dan pemicu yang berbeda. Jadi, menurutnya, menangani situasi sekarang tak bisa serta-merta disamakan dengan cara-cara dulu.

“Kalau kita mencetak uang pun itu bukan jawaban. Jawabannya adalah bagaimana rupiah itu makin kuat dengan cara-cara yang kita lakukan sendiri,”

Ucap Ginandjar dalam peluncuran bukunya "Pengabdian dari Masa ke Masa" di Jakarta, Kamis (9/4/2026). Bagi dia, kunci utamanya cuma satu: kepercayaan. Bukan sekadar kebijakan teknis yang rumit.

Ia menjelaskan, solusi paling mendasar bukanlah mesin cetak uang. Intinya adalah mengembalikan trust, baik dari pasar, pelaku usaha, sampai masyarakat biasa. Tanpa itu, semua upaya akan sia-sia.

Memang, saat kepercayaan anjlok, yang terjadi bisa ditebak. Masyarakat kalap menimbun dolar dan kabur dari rupiah. Tekanan terhadap mata uang kita pun makin menjadi-jadi. Situasinya mirip seperti tahun 1998, meski akar masalahnya beda.

Nah, bicara soal krisis '98, Ginandjar tahu betul lika-likunya. Saat cadangan devisa menipis drastis karena dana kabur besar-besaran, Indonesia nyaris tak punya pilihan. Mau tak mau, pemerintah harus merangkul lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

Bantuan mereka menyuntikkan likuiditas yang sangat dibutuhkan untuk menahan rupiah. Tapi bantuan itu tidak gratis. Ada syarat ketat yang harus dipenuhi: reformasi ekonomi dan tata kelola yang lebih transparan.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar