Di daerah-daerah rawan seperti Papua, kita sering mendengar tentang keterlibatan pasukan elite TNI Angkatan Udara, Korps Pasukan Gerak Cepat atau Korpasgat. Unit berbaret jingga ini punya sejarah panjang, bermula dari nama Pasukan Gerak Tjepat (PGT), lalu sempat dikenal sebagai Paskhas, sebelum akhirnya menjadi Kopasgat dan sekarang Korpasgat. Perubahan nama itu bukan sekadar ganti label, tapi mengikuti aturan baru yang tertuang dalam Perpres Nomor 84 Tahun 2025.
Namun begitu, di balik nama dan seragamnya, tersimpan kisah-kisah heroik yang nyaris tak terbayangkan. Salah satunya adalah cerita tentang Prajurit Ngatijan. Dalam sebuah operasi berbahaya, ia disebut-sebut berhasil menyelamatkan nyawa rekan-rekannya dari maut di dalam penjara. Kejadian itu berlangsung saat mereka diterjunkan dalam misi yang dikenal sebagai Operasi Serigala.
Operasi militer besar-besaran ini digelar oleh Angkatan Udara Mandala (AULA), dipimpin langsung oleh Komodor Udara Leo Wattimena. Intinya, mereka bertugas menyusup ke wilayah pertahanan Belanda, jadi pasukan pembuka jalan sebelum pasukan utama masuk lewat Sorong dan Teminabuan. Kenapa sampai harus ada operasi militer? Sederhana saja: Belanda ogah menyerahkan Papua ke Indonesia, padahal itu sudah jadi kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar. Ya, perjanjian dilanggar.
Merespon hal itu, Panglima Komando Mandala kala itu, Mayjen TNI Soeharto, meminta Leo Wattimena menyiapkan pasukan khusus. Caranya? Diterjunkan. Wattimena lantas menunjuk Letnan Udara I Lambertus Manuhua, Komandan III PGT di PAU Margahayu, untuk memimpin.
Maka, pada tanggal 17 Mei 1962, tepat pukul empat pagi buta, 119 prajurit Baret Jingga itu terbang meninggalkan Pangkalan Udara Laha di Ambon. Mereka naik tiga pesawat Dakota C-47. Tujuannya: diterjunkan di Klamono, Sorong.
Tapi rencana tak semulus harapan. Cuma satu pesawat yang berhasil menurunkan pasukan sekitar 39 orang bersama Komandan Kompi Manuhua dan Danton Sersan Muda Udara Soepangat. Dua pesawat lainnya terpaksa balik ke pangkalan karena cuaca sama sekali tidak bersahabat. Penerjunan baru bisa dilanjutkan dua hari kemudian, yaitu pada 19 Mei, kali ini di daerah Teminabuan.
Sersan Udara Satu Rebo Hartono, salah satu yang ikut operasi itu, masih ingat betul detik-detik sebelum penerjunan. Mereka semua dikumpulkan dan diberi tahu soal misi merebut Papua.
“Siapa yang mau terjun duluan? Enggak ada yang ngacung. Lalu Pak Leo Wattimena menendang Pak Kani. Berangkat PGT. Pak Kani itu orang kebal. Orang-orang PGT yang kebal-kebal ada empat yaitu, Pak Wiriadinata, Pak Sukani, Pak Soeroso dan Ngatijan,”
kenang Rebo dalam catatan sejarah.
Saat terjun di Teminabuan dini hari itu, Rebo mendengar suara tembakan riuh di bawah. Dirinya sendiri jatuh tersangkut di puncak pohon, tingginya lebih dari 30 meter. Dalam gelap yang pekat, ia berusaha turun perlahan. Tiba-tiba, dahan yang diinjaknya patah.
”Saya melorot jatuh ke bawah kurang lebih 30 meteran. Kurang lebih setengah jam saya pingsan, begitu bangun saya lihat senjata masih diselempang. Di mana ini kok masih gelap? Tapi suara tembak-tembakan masih ramai,”
ucapnya.
Pertempuran sengit pun dijalaninya di tengah hutan belantara Papua. Tapi nahas, ketika sedang menebang pohon sagu untuk persediaan makanan, pasukan Belanda menyerang mendadak. Rebo berusaha sembunyi di rawa, tapi gagal. Ia ditangkap bersama beberapa rekannya, termasuk SMU Mengko.
”Saya mendengar ledakan. Lima rekan yang berupaya melarikan diri salah satunya bernama Ngatimun ditembak kepalanya hingga tewas. Sementara empat orang lainnya berhasil melarikan diri. Saya disuruh jalan sambil ditendangi dan terus disiksa,”
tuturnya.
Mereka semua kemudian dibawa ke Kampung Wersar dan dipenjarakan di Teminabuan. Penyiksaan terjadi hampir setiap hari. Rebo bahkan diikat di pohon kelapa semalaman. Puncaknya, suatu sore menjelang Maghrib, tentara Belanda masuk ke sel dengan senjata dan senter.
”Menjelang Maghrib, tentara Belanda datang bawa senter dan pistol masuk ke sel saya lalu menembaki teman-teman saya. Untungnya tidak ada yang mati,”
kata Rebo.
Nyawa mereka selamat, menurut Rebo, berkat perlindungan dari Ngatijan. Konon, prajurit itu punya ilmu kebal yang membuat peluru Belanda hanya menempel di tubuhnya, tidak menembus.
”Teman saya Ngatijan punya aji-aji sakti, kena tembak berteriak aduh-aduh. Tapi peluru tidak tembus cuma menempel saja di tubuh Pak Ngatijan,”
tuturnya.
Setelah kejadian itu, rasa takut mereka pun berkurang. Seperti kata Ngatijan yang ditirukan Rebo,
“Pokoknya wis tenang saja, kita tidak dipateni, disiksa iya.”
Perjuangan dan pengorbanan mereka, dan banyak prajurit PGT lainnya, akhirnya membuahkan hasil. Belanda menyerah. Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Kisah seperti ini, meski sudah puluhan tahun berlalu, tetap menjadi saksi betapa beratnya jalan yang ditempuh untuk mempertahankan kedaulatan.
Artikel Terkait
Jokowi Pastikan Hadir di Sidang Roy Suryo dan Akan Perlihatkan Ijazah Asli
Gubernur Aceh: Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Baru 30 Persen, Jembatan dan Sekolah Masih Banyak Rusak
Pemkot Makassar Tetapkan Lapangan Karebosi sebagai Lokasi Salat Iduladha 2026
Bentrokan Mahasiswa dan Aparat Warnai Aksi Desak Pengusutan Narkoba di Lapas Bollangi