Indonesia Sambut Positif Gencatan Senjata Dua Pekan Iran-AS

- Kamis, 09 April 2026 | 06:00 WIB
Indonesia Sambut Positif Gencatan Senjata Dua Pekan Iran-AS

Istana menyambut positif langkah Iran dan Amerika Serikat yang sepakat gencatan senjata. Kesepakatan itu akan berlangsung selama dua pekan. Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, upaya apa pun untuk meredakan ketegangan patut diapresiasi.

"Ya, seperti tadi kami sampaikan, segala upaya menurunkan eskalasi pastilah kita sambut baik," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu lalu.

Dia melanjutkan dengan penjelasan yang cukup gamblang. Di dunia yang saling terhubung sekarang ini, kata dia, peristiwa di belahan bumi lain tetap punya pengaruh. Meski jaraknya jauh dari Indonesia, dampaknya bisa saja terasa di dalam negeri. Itu sebabnya situasi global selalu jadi perhatian.

Sebelum pernyataan Istana, pemerintah sebenarnya sudah lebih dulu angkat bicara. Lewat Kementerian Luar Negeri, Indonesia mendukung kesepakatan yang selain menghentikan konflik juga akan membuka kembali jalur Selat Hormuz untuk sementara. Dua minggu ini dianggap sebagai masa jeda bagi proses negosiasi damai.

Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, melihat ada secercah harapan di sini. Menurutnya, langkah ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang bertikai masih mau membuka pintu diplomasi.

"Indonesia melihat momentum ini sebagai awal yang positif. Kita mendorong agar kesempatan ini betul-betul dimanfaatkan untuk memajukan penyelesaian damai yang berkelanjutan," kata Yvonne dalam konferensi pers di Gedung Kemlu.

Pesan Indonesia jelas: semua pihak harus menahan diri. Menghormati kedaulatan dan integritas wilayah itu wajib. Yang tak kalah penting, dialog harus jadi jalan utama.

"Dialog dan diplomasi, terus kita ulang, ini satu-satunya jalan menyelesaikan konflik," tegasnya.

Di sisi lain, Indonesia juga menegaskan prinsipnya soal kebebasan bernavigasi. Hak itu, yang dijamin hukum internasional seperti UNCLOS, harus tetap dihormati oleh siapa pun. Komitmen Indonesia untuk mendukung upaya diplomasi yang konstruktif tetap kuat. Fokusnya, kata Yvonne, adalah upaya yang bisa mengarah pada penyelesaian permanen dengan perlindungan warga sipil sebagai prioritas utama.

Nuansa kehati-hatian terasa, namun harapan untuk perdamaian yang lebih tetap juga mengemuka. Semuanya kini tergantung pada dua pekan ke depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar