"Kami sih berharap akan muncul inovasi-inovasi baru di setiap kesulitan, termasuk kesulitan bahan baku yang saat ini kami hadapi," kata Bob.
Isu ketersediaan bahan baku ini memang jadi momok serius sejak perang berkecamuk. Ambil contoh industri tekstil di hulu. Menurut Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), stok bahan baku kritis seperti MEG yang berasal dari Timur Tengah hanya bertahan untuk beberapa pekan ke depan.
"Kalau untuk saat ini belum ada pengaruh karena stok bahan baku kita yang berasal dari Timteng yaitu MEG masih ada untuk 2-3 Minggu ke depan," ucap Redma pada 10 Maret 2026.
Namun begitu, ancaman sudah terlihat di depan mata. Ketidakpastian keamanan kawasan langsung berimbas pada dua hal: harga dan logistik. Harga komoditas bahan baku di pasar spot sudah meroket. Belum lagi biaya pengiriman yang membengkak, khususnya untuk rute ke Timur Tengah dan Eropa.
"Harga PX, PTA dan MEG di pasar spot sudah naik," jelas Redma. "Untuk ekspor saat ini terkendala biaya logistik khususnya yang ke Timteng dan Eropa yang naik sekitar 25 persen karena ditambahkan biaya resiko."
Jadi, situasinya cukup pelik. Di satu sisi, produksi harus dijaga. Di sisi lain, tekanan dari kenaikan biaya dan kelangkaan bahan baku semakin nyata. Semuanya bergantung pada seberapa cepat dan tepat respons semua pihak, baik pengusaha maupun pemerintah, dalam menghadapi gejolak ini.
Artikel Terkait
Banten Jemput Bola Terbitkan NIB Gratis untuk Stabilkan Harga Minyakita
Operasi Penyelamatan AS Gagal Temukan Pilot Pesawat yang Diklaim Ditembak Iran
Konflik Timur Tengah Picu Kelangkaan Bahan Baku Plastik, Industri Minta Relaksasi Impor
Tanggul Jebol di Demak, 4 Kecamatan Terendam dan 1 Warga Hilang