Konflik Timur Tengah Picu Kelangkaan Bahan Baku Plastik, Industri Minta Relaksasi Impor

- Sabtu, 04 April 2026 | 00:35 WIB
Konflik Timur Tengah Picu Kelangkaan Bahan Baku Plastik, Industri Minta Relaksasi Impor

Kelangkaan bahan baku plastik mulai terasa dampaknya. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran di Timur Tengah, rupanya tak cuma jadi berita di layar kaca. Bagi pelaku industri dalam negeri mulai dari makanan-minuman sampai otomotif gejolak itu kini berubah jadi persoalan riil di lapangan.

Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, pasokan yang seret tak lagi seimbang dengan permintaan yang ada. Situasinya memang pelik.

"Kami berharap jangan sampai ada bottlenecking terhadap bahan baku dan lain sebagainya," ujar Bob kepada media di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

"Imbauan kami ke pemerintah, moga ada relaksasi untuk impor bahan baku. Intinya, kelangkaan ini jangan sampai mengganggu jalannya produksi," tambahnya.

Bob juga mewanti-wanti risiko inflasi. Jika produksi terus menurun karena bahan baku sulit, kenaikan harga barang dan jasa bisa jadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Meski begitu, untuk saat ini, dunia usaha masih berusaha menahan diri. Menaikkan harga dianggap sebagai opsi paling akhir.

"Biasanya kalau otomotif, kami justru mempertahankan (harga)," katanya.

Lantas, apa solusinya? Kalangan pengusaha kini berpacu dengan waktu. Inovasi dalam proses produksi menjadi keharusan. Diversifikasi sumber bahan baku digadang-gadang sebagai salah satu jalan keluar.

"Kami sih berharap akan muncul inovasi-inovasi baru di setiap kesulitan, termasuk kesulitan bahan baku yang saat ini kami hadapi," harap Bob.

Isu ketersediaan bahan baku ini memang menghantui banyak sektor. Ambil contoh industri tekstil. Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum APSyFI, mengaku stok bahan baku kunci dari Timur Tengah seperti MEG, hanya bertahan untuk beberapa pekan ke depan.

"Kalau untuk saat ini belum ada pengaruh karena stok... masih ada untuk 2-3 minggu ke depan," kata Redma pada 10 Maret 2026.

Sejak awal konflik, dua masalah utama langsung muncul: harga melambung dan ekspor terkendala. Ketidakpastian keamanan di kawasan itu mengacaukan jalur perdagangan global, yang efeknya dirasakan hingga ke sini.

Redma merinci, "Harga PX, PTA dan MEG di pasar spot sudah naik... Untuk ekspor saat ini terkendala biaya logistik khususnya yang ke Timteng dan Eropa, naik sekitar 25 persen karena ditambahkan biaya risiko."

Jelas, situasinya tidak mudah. Para pengusaha dituntut lincah beradaptasi sambil menunggu langkah strategis dari pemerintah. Ketegangan di Timur Tengah, ternyata gemanya sampai juga ke pabrik-pabrik di sini.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar