Juru bicara Angkatan Bersenjata Prancis, Guillaume Vernet, memberi penjelasan yang cukup realistis. Dalam konferensi pers, ia mengatakan proses ini harus bertahap dan tidak bisa dilakukan selama permusuhan masih berkecamuk.
"Pada akhirnya juga perlu ada koordinasi dengan Iran untuk memastikan adanya jaminan keamanan bagi kapal," ujar Vernet.
Sayangnya, koordinasi dengan Tehran saat ini mustahil dilakukan. Jadi, fokus sementara adalah bagaimana meyakinkan para pemilik kapal agar berani melintas lagi, sehingga premi asuransi yang membumbung tinggi bisa turun.
Pembicaraan teknis militer pun sudah mulai digelindingkan. "Kita perlu mengumpulkan sejumlah kapal yang cukup dan memiliki kemampuan koordinasi di udara, di laut, serta kemampuan untuk berbagi intelijen," tambah Vernet. Inggris rencananya akan menjadi tuan rumah pertemuan perencana militer untuk hal ini minggu depan.
Di sisi lain, dari Seoul, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyuarakan kehati-hatian. Menurutnya, opsi merebut Selat Hormuz dengan kekuatan militer adalah hal yang "tidak realistis".
"Proses itu akan memakan waktu yang tidak pasti, dan akan membuat semua orang yang melewati Selat ini terpapar risiko," katanya.
Risiko itu, jelas Macron, datang dari Garda Revolusi Iran yang menguasai pesisir dan ancaman rudal balistik mereka. Situasinya memang rumit. Di satu sisi, tekanan ekonomi mendesak aksi segera. Di sisi lain, langkah militer yang tergesa-gesa justru bisa memicu bencana yang lebih besar.
Artikel Terkait
Mendagri Tegaskan WFH Jumat Bukan Libur, ASN Wajib Aktifkan Pelacak Lokasi
368 Pendatang Baru Masuk Jakarta Timur Pascalebaran 2026
Kepatuhan LHKPN 2025 Capai 96,24%, Legislatif Masih Tertinggal
Pemerintah Kirim 100 Ton Makanan Lokal ke Arab Saudi untuk Jamaah Haji