40 Negara Bahas Upaya Buka Blokade Iran di Selat Hormuz, AS Absen

- Kamis, 02 April 2026 | 23:20 WIB
40 Negara Bahas Upaya Buka Blokade Iran di Selat Hormuz, AS Absen

Blokade Iran di Selat Hormuz ternyata memicu respons yang cukup serius. Sekitar empat puluh negara, dari berbagai belahan dunia, kini terlibat pembicaraan untuk membuka kembali jalur air vital itu. Mereka berupaya menghentikan apa yang disebut sebagai aksi penyanderaan terhadap ekonomi global oleh Tehran.

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, yang mengungkapkan hal itu Kamis lalu. Menurutnya, kecerobohan Iran telah menghantam keamanan ekonomi kita semua. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan virtual yang dihadiri perwakilan dari Prancis, Jerman, Kanada, Uni Emirat Arab, hingga India.

"Kita telah melihat Iran membajak jalur pelayaran internasional untuk menyandera ekonomi global," kata Cooper.

Pidato pembukaannya disiarkan untuk publik, sebelum rapat dilanjutkan secara tertutup. Yang menarik, Amerika Serikat justru absen dari pembicaraan ini. Seorang pejabat mengonfirmasi ketidakhadiran mereka.

Ini semua terjadi setelah pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump. Sehari sebelumnya, Trump menyebut Selat Hormuz bisa "terbuka secara alami" dan tanggung jawab menjaga agar jalur itu tetap terbuka ada di pundak negara-negara yang paling bergantung padanya. Komentar itu seperti melemparkan bola panas ke arena internasional.

Sejak akhir Februari, Iran memang secara efektif menutup selat sempit itu. Tindakan ini dibalasannya atas serangan gabungan AS dan Israel. Padahal, hampir seperlima minyak dunia harus melewati jalur ini. Wajar saja, harga energi langsung melonjak dan membuka kembali selat jadi prioritas utama bagi banyak pemerintah.

Awalnya sih, negara-negara Eropa enggan memenuhi permintaan Trump untuk mengirim angkatan laut mereka ke kawasan itu. Mereka takut justru terseret ke dalam konflik yang lebih dalam. Namun begitu, kekhawatiran akan dampak gila-gilaan harga energi terhadap perekonomian global akhirnya mengubah pikiran mereka. Sekarang, mereka mencoba membentuk koalisi untuk setidaknya membela kepentingan mereka sendiri.

Menurut para diplomat Eropa, proses pembentukan koalisi ini masih sangat awal. Inggris dan Prancis tampil sebagai pemimpin. Pembicaraan Kamis itu sendiri lebih fokus pada satu hal praktis: negara mana saja yang benar-benar siap turun tangan.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar