Harga minyak dunia lagi memanas. Konflik di Timur Tengah, terutama antara AS-Israel dan Iran, bikin pasar bergejolak. Tapi di tengah situasi itu, China justru mengambil langkah yang menarik. Mereka memilih untuk membatasi kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri, meski aturan yang ada sebenarnya mengizinkan kenaikan yang jauh lebih besar.
Badan perencana negara, National Development and Reform Commission (NDRC), baru saja mengumumkan kenaikan harga eceran maksimum untuk bensin dan solar. Mulai tengah malam Senin (23/3/2026), harga bensin naik 1.160 yuan per metrik ton, sementara solar naik 1.115 yuan. Angka itu, kalau kita lihat, cuma sekitar setengah dari kenaikan yang seharusnya berlaku berdasarkan formula pemerintah.
“Untuk meredam dampak, mengurangi beban pengguna di hilir, dan mendukung stabilitas ekonomi serta sosial, otoritas memperkenalkan kontrol sementara dalam kerangka penetapan harga yang ada,”
Begitu penjelasan resmi dari NDRC. Intinya, mereka intervensi. Padahal, mekanisme normalnya kan sederhana: NDRC meninjau harga setiap 10 hari kerja. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan harga minyak mentah internasional, plus biaya pengolahan, pajak, dan margin keuntungan yang wajar. Kalau mengikuti aturan itu, bensin harusnya naik 2.205 yuan dan solar 2.120 yuan per metrik ton.
Artikel Terkait
KRI Prabu Siliwangi-321 Tiba di Indonesia, Lakukan Latihan Bersama di Selat Sunda
IEA Desak Penerapan WFH dan Ganjil-Genap Atasi Lonjakan Harga Energi Global
Pemprov DKI Uji Coba WFA untuk ASN Usai Lebaran 2026 dengan Aturan Ketat
Trump Usulkan AS dan Iran Kelola Bersama Selat Hormuz