Namun begitu, meski ditekan, kenaikan yang terjadi tetap saja signifikan. Ini disebut-sebut sebagai penyesuaian terbesar sepanjang sejarah, yang mendorong batas harga BBM mendekati level tertinggi pada 2022 lalu, saat Rusia menginvasi Ukraina.
Lalu, apa yang memicu semua ini? Pemicunya ya kondisi geopolitik yang lagi panas. Harga minyak melonjak di hari Senin setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menargetkan pembangkit listrik Israel dan fasilitas yang mendukung pangkalan AS di kawasan. Itu balasan atas serangan terhadap sektor kelistrikan mereka.
Akibatnya, Brent crude melesat naik USD1,57 ke level USD113,76 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS bahkan naik lebih tajam, USD3,09, sehingga berada di posisi USD101,32 per barel. Kenaikannya mencapai 3,15 persen angka yang cukup buat bikin pemerintah mana pun waswas.
Jadi, langkah China ini jelas upaya menahan gempuran. Mereka berusaha menjaga stabilitas dalam negeri, meski badai harga minyak menerjang dari luar. Pilihannya: ikuti mekanisme pasar dan riskan gelombang ketidakpuasan, atau kendalikan sementara dan serap sebagian gejolaknya. Mereka memilih opsi kedua.
Artikel Terkait
KRI Prabu Siliwangi-321 Tiba di Indonesia, Lakukan Latihan Bersama di Selat Sunda
IEA Desak Penerapan WFH dan Ganjil-Genap Atasi Lonjakan Harga Energi Global
Pemprov DKI Uji Coba WFA untuk ASN Usai Lebaran 2026 dengan Aturan Ketat
Trump Usulkan AS dan Iran Kelola Bersama Selat Hormuz