Di usia yang baru menginjak 22 tahun, Raden Raka sudah memegang tampuk kepemimpinan sebagai Ketua RW 03 di Padasuka, Cimahi. Bukan main. Ia tercatat sebagai salah satu ketua RW termuda di kota itu, sebuah tanda nyata bahwa generasi Z mulai mengambil peran di struktur pemerintahan paling dasar.
"Sekarang baru hari kedua. Baru banget, masih fresh," ujarnya dengan santai, ditemui di rumahnya pada Selasa lalu.
Ketertarikannya pada urusan mengelola komunitas ternyata berakar jauh, sejak masa kecil. Inspirasinya datang dari tempat yang tak terduga: permainan simulasi pembangunan kota. Dari usia lima sampai sepuluh tahun, ia asyik dengan game-game seperti SimCity, City Skylines, hingga Manor Lords.
“Dari game itu saya belajar bahwa mengelola kota dan masyarakat itu kompleks. Ada banyak masalah yang harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan. Dari situ saya penasaran, apakah cara berpikir itu bisa diterapkan langsung di masyarakat,”
Rasa penasaran itulah yang akhirnya mendorongnya turun ke lapangan dan nekat mencalonkan diri.
Di sisi lain, tantangan yang langsung ia hadapi adalah persoalan klasik: banjir. Wilayahnya sudah bergelut dengan genangan air selama lebih dari seperempat abad. Berkat konten media sosial yang ia buat dan viral hingga ditonton ratusan ribu orang, masalah ini akhirnya mencuri perhatian Wali Kota dan Camat.
“Banjir itu bukan cuma air masuk rumah, tapi ekonomi mati. Orang nggak jadi belanja, usaha tutup, investasi enggan masuk. Itu yang terus saya perjuangkan,”
Ia menegaskan hal itu dengan serius.
Modal Rp 30 Juta dan Keyakinan
Di luar status barunya sebagai Ketua RW, Raka sebenarnya masih berstatus mahasiswa semester 9 di Jurusan Bisnis, Binus Bandung. Ia tinggal bersama orang tua dan membantu mengelola toko kue keluarga. Pria lajang ini juga aktif sebagai wirausaha dan pembicara seminar bisnis, bahkan sempat membuka coffee shop di tahun 2020.
Jalan menuju kursi ketua RW tentu tak mulus. Faktor usia muda sempat menjadi ganjalan dan memicu penolakan. Awalnya ada empat calon, yang kemudian menyempit jadi dua: dirinya dan petahana yang sudah menjabat lima tahun.
“Banyak masyarakat yang awalnya belum percaya dengan anak muda. Tapi saya coba jelaskan ide, gagasan, dan arah perubahan yang ingin saya lakukan. Saya bilang, kalau mau perubahan, ayo kita jalan bareng,”
Upayanya membuahkan hasil. Pada hari pemilihan, dukungan warga ternyata besar. Dengan raihan 65 persen suara, Raden Raka resmi memenangkan mandat kepercayaan.
Yang menarik, ia mengaku semua proses pencalonan dilakukan secara mandiri. Modal kampanye sekitar Rp 30 juta ia kumpulkan sendiri dari relasi dan jaringan pengusaha yang dimilikinya, bukan dari keluarga.
“Modal kampanye sekitar Rp 30 juta rupiah. Saya punya networking sama pengusaha-pengusaha banyak yang support lah dari mereka. Kalau dibandingkan dengan gaji RW yang Rp 500 ribu per bulan, itu mungkin puluhan tahun balik modalnya. Jadi ini memang soal keikhlasan dan tanggung jawab,”
Harapannya sederhana tapi mendalam: ia ingin kisahnya bisa memacu anak muda lain untuk terlibat di pemerintahan akar rumput. Tentu saja, dengan persiapan yang matang dan niat yang tulus.
Artikel Terkait
Pabrik Minyakita di Sidoarho Curangi Takaran, Isi Jeriken 5 Liter Hanya 4,3 Liter
Persebaya Surabaya Hentikan Tren Negatif dengan Kemenangan 2-0 atas Malut United
Polisi Bekuk Perampok Pura-Pura Pinjam HP di Parkiran Masjid Langkat, Pelaku Residivis
Wakapolri Dorong Brimob Tingkatkan Kemampuan Hadapi Ancaman Hybrid dan Perkuat Peran Pelindung Masyarakat