Operasional PT Sinar Terang Mandiri Tbk, atau MINE, tampaknya masih aman dari riak-riak kebijakan terbaru. Pemerintah memang memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel untuk 2026, tapi perusahaan ini mengaku belum merasakan dampaknya.
Alasannya sederhana: portofolio bisnis mereka di sektor jasa penunjang pertambangan dinilai cukup mapan. Dinamika produksi nikel yang fluktuatif, setidaknya untuk saat ini, bisa dihindari berkat kontrak-kontrak jangka panjang yang sudah diikat.
Direktur Operasional MINE, Ade Irawan, memberikan penjelasan lebih rinci dalam sebuah paparan publik di Jakarta, Rabu lalu.
"Penurunan RKAB dari sekitar 370 juta ton di 2025 menjadi 260 juta ton di 2026, untuk kami belum berpengaruh," ujar Ade.
"Kami punya kontrak jangka menengah dan panjang, ada yang sampai lima tahun. Jadi dari sisi volume, sejauh ini belum ada penyesuaian," tambahnya.
Klien-klien MINE, kata dia, sudah mengikat kerja sama untuk berbagai jasa, mulai dari transportasi tambang hingga penggalian. Namun begitu, perusahaan ini bukan berarti tutup mata. Mereka tetap mewaspadai dinamika pasar dan setiap penyesuaian kebijakan yang mungkin datang. Isu penurunan produksi nikel dan surplus pasokan di China, misalnya, jadi hal yang dipantau ketat.
"Tentunya dengan peraturan dari pemerintah ini, kami akan memonitoring setiap saat dan mengantisipasi jika sudah ada dampaknya terhadap perseroan kami," tegas Ade.
Di sisi lain, performa keuangan MINE sepanjang 2025 patut dicermati. Mereka berhasil mendongkrak pendapatan hingga 11,8 persen, menjadi Rp2,36 triliun. Pencapaian ini lumayan, mengingat kompleksnya tantangan industri tambang dan ekonomi global tahun lalu.
Kenaikan itu ditopang oleh dua lini pendapatan baru. Ada proyek pembangunan jalan dari PT Erabaru Timur Lestari dan proyek penambangan yang dikelola PT Sulawesi Cahaya Mineral. Dua proyek ini disebut memperkokoh portofolio bisnis perusahaan.
Ke depan, MINE tetap berambisi menjaring kontrak-kontrak baru. Strateginya jelas: menjaga kepercayaan klien lama sambil mengembangkan lini bisnis untuk memperbesar peluang pertumbuhan. Tapi, ada catatan yang agak mengganjal. Laba bersih perseroan justru menyusut tahun lalu, dari Rp306,1 miliar di 2024 menjadi Rp202,029 miliar di 2025.
Penurunan itu, menurut mereka, wajar. Beban operasional dari pengerjaan proyek-proyek besar yang sedang digarap dinilai jadi penyumbang utamanya. Jadi, sambil berjalan, mereka tetap harus cermat mengelola anggaran.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
BI: Ketegangan Timur Tengah Persempit Ruang The Fed Turunkan Suku Bunga
Saham Bank Danamon Melonjak 25 Persen, Manajemen Buka Suara soal Rumor Akuisisi MUFG