Bursa Asia Terpuruk, Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran

- Rabu, 10 Juni 2026 | 10:00 WIB
Bursa Asia Terpuruk, Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran

Bursa saham Asia kompak melemah pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas akibat serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Peristiwa ini tidak hanya memicu lonjakan harga minyak, tetapi juga memperkuat kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi global yang semakin menekan sentimen investor di kawasan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,6 persen. Pelemahan terjadi hampir merata di berbagai bursa utama. Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,10 persen, sementara Kospi Korea Selatan anjlok hingga 3,56 persen. Tekanan paling terasa pada saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang menjadi motor pelemahan di kedua negara tersebut.

Di China, indeks Shanghai Composite turun 0,67 persen, dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,93 persen. Sementara itu, indeks Straits Times Singapura terkoreksi 1,30 persen. Namun, di tengah dominasi pelemahan, indeks ASX 200 Australia justru mencatat penguatan sebesar 0,36 persen, menjadi satu-satunya bursa besar di Asia yang bergerak ke zona hijau pada hari itu.

Memburuknya sentimen pasar dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa Iran telah menembak jatuh helikopter Apache militer AS di Selat Hormuz. Washington kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Iran, memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh di kawasan tersebut dapat kembali runtuh kapan saja.

Kondisi geopolitik yang tidak menentu itu langsung mendorong harga minyak kembali naik, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam tujuh pekan. Minyak mentah Brent menguat 0,9 persen ke posisi 92,29 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8 persen menjadi 88,97 dolar AS per barel.

Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura, Charu Chanana, menilai bahwa pasar saat ini masih memandang konflik geopolitik sebagai risiko jangka pendek, bukan sebagai guncangan ekonomi yang berkepanjangan.

“Bertahannya harga minyak di sekitar 90 dolar AS per barel meski muncul kabar terbaru dari Iran menunjukkan pasar belum memperhitungkan gangguan pasokan yang berkelanjutan. Namun, risiko repricing yang lebih besar masih terbuka jika infrastruktur energi, jalur pelayaran, atau keterlibatan AS meningkat,” ujarnya.

Di sisi lain, pelemahan bursa Asia juga sejalan dengan tekanan yang terjadi di Wall Street. Indeks saham AS ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya setelah reli saham teknologi kehilangan momentum. Kekhawatiran terhadap valuasi saham AI, eskalasi konflik Timur Tengah, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga mendorong investor untuk mulai mengurangi aset berisiko.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit malam ini. Survei Reuters memperkirakan inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2 persen pada Mei, yang akan menjadi laju tertinggi sejak April 2023. Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pekan lalu juga turut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan.

Saat ini, pelaku pasar telah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin pada Desember. Perhitungan tersebut berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang mengarah pada dua kali pemangkasan suku bunga sebelum konflik Timur Tengah kembali memanas.

Menurut Chanana, data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mempersempit ruang gerak The Fed dalam menyampaikan nada kebijakan yang lebih dovish pada pertemuan berikutnya.

“Jika inflasi kembali memanas, The Fed akan semakin sulit bersikap santai. Bank sentral mungkin tidak bisa menaikkan suku bunga secara agresif hanya karena guncangan pasokan, tetapi mereka juga tidak bisa mengabaikan ekspektasi inflasi jika harga minyak terus meningkat,” katanya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar