Di tengah situasi genting ini, insiden di lapangan sudah terjadi. Rabu kemarin, tiga kapal dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz. Salah satunya kapal kargo berbendera Thailand, diserang sekitar 18 kilometer di utara Oman. Risiko nyata, bukan lagi sekadar ancaman di atas kertas.
Namun begitu, respons dari Gedung Putih justru mendorong keberanian. Presiden AS Donald Trump malah menganjurkan kapal-kapal untuk terus melintas. “Saya pikir mereka harus,” ujarnya ketika ditanya. Trump tampaknya percaya diri, “Anda akan melihat keamanan yang luar biasa, dan itu akan terjadi dengan sangat, sangat cepat.”
Di sisi lain, kekhawatiran kemanusiaan mulai mengemuka. Tom Fletcher, seorang kepala bantuan PBB, bersuara lantang. Dia menyerukan pengecualian untuk konvoi bantuan yang harus melewati selat itu. Pasokan untuk daerah-daerah kritis, seperti Afrika sub-Sahara, terhambat.
“Kami mengimbau semua pihak untuk mengamankan rute, termasuk Selat Hormuz, untuk lalu lintas kemanusiaan. Agar kami bisa menjangkau siapa pun berdasarkan kebutuhan terbesar,” pinta Fletcher.
Ancaman, proyeksi harga gila-gilaan, insiden di laut, dan seruan kemanusiaan. Semuanya beradu di perairan sempit yang jadi kunci stabilitas energi global. Sekarang, semua mata tertuju ke sana, menunggu langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
DPR Terima Tiga Surat Presiden Prabowo Soal RUU dan Kerja Sama Kanada
DPR Sahkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK 2026-2031
Prabowo Perketat Pengawasan BUMN dan Danantara dengan Utusan Khusus
AS Tolak Pengawalan Militer di Selat Hormuz, 10.000 Awak Kapal Terjebak