AS Tolak Pengawalan Militer di Selat Hormuz, 10.000 Awak Kapal Terjebak

- Kamis, 12 Maret 2026 | 10:50 WIB
AS Tolak Pengawalan Militer di Selat Hormuz, 10.000 Awak Kapal Terjebak

Permintaan pengawalan militer di Selat Hormuz terus mengalir, hampir setiap hari. Tapi jawaban dari Angkatan Laut Amerika Serikat tetap sama: tidak. Padahal, Presiden Donald Trump sebelumnya sempat membuka peluang untuk hal itu.

Namun begitu, militer AS punya alasan kuat untuk menolak. Menurut sejumlah sumber dalam tubuh militer, ancaman dari Iran dinilai masih terlalu besar. Risiko serangan dianggap terlalu tinggi untuk bisa menjamin keamanan konvoi kapal dagang saat ini.

Situasi ini tentu saja membuat industri pelayaran dan minyak waswas. Sejak perang AS-Israel dengan Iran meletus akhir bulan lalu, pembicaraan rutin memang sudah berjalan antara Angkatan Laut AS dan para pelaku industri. Tapi hasilnya belum juga memuaskan.

Dampaknya nyata dan memprihatinkan. Dalam sebuah pertemuan di Connecticut pekan ini, para eksekutif pelayaran mengungkapkan fakta pahit. Serangan-serangan Iran di selat itu telah menjebak sekitar 10.000 awak kapal. Mereka terperangkap di ratusan kapal yang tak bisa beranjak dari Teluk Persia.

Selat Hormuz, gerbang vital menuju kawasan Teluk yang kaya minyak, praktis macet. Sebagian besar jalur itu ditutup sejak perang dimulai. Dan dalam periode yang sama, belasan kapal kargo sudah menjadi sasaran serangan.

Ini bukan pertama kalinya AS terlibat dalam pengawalan. Dulu, pada 2024 dan 2025, Angkatan Laut AS bersama Uni Eropa pernah mengawal kapal dagang melintasi Laut Merah. Saat itu, ancamannya datang dari kelompok militan Houthi di Yaman. Tapi situasi di Selat Hormuz sekarang, rupanya, dianggap berbeda dan jauh lebih berbahaya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar