Permintaan pengawalan militer di Selat Hormuz terus mengalir, hampir setiap hari. Tapi jawaban dari Angkatan Laut Amerika Serikat tetap sama: tidak. Padahal, Presiden Donald Trump sebelumnya sempat membuka peluang untuk hal itu.
Namun begitu, militer AS punya alasan kuat untuk menolak. Menurut sejumlah sumber dalam tubuh militer, ancaman dari Iran dinilai masih terlalu besar. Risiko serangan dianggap terlalu tinggi untuk bisa menjamin keamanan konvoi kapal dagang saat ini.
Situasi ini tentu saja membuat industri pelayaran dan minyak waswas. Sejak perang AS-Israel dengan Iran meletus akhir bulan lalu, pembicaraan rutin memang sudah berjalan antara Angkatan Laut AS dan para pelaku industri. Tapi hasilnya belum juga memuaskan.
Dampaknya nyata dan memprihatinkan. Dalam sebuah pertemuan di Connecticut pekan ini, para eksekutif pelayaran mengungkapkan fakta pahit. Serangan-serangan Iran di selat itu telah menjebak sekitar 10.000 awak kapal. Mereka terperangkap di ratusan kapal yang tak bisa beranjak dari Teluk Persia.
Selat Hormuz, gerbang vital menuju kawasan Teluk yang kaya minyak, praktis macet. Sebagian besar jalur itu ditutup sejak perang dimulai. Dan dalam periode yang sama, belasan kapal kargo sudah menjadi sasaran serangan.
Ini bukan pertama kalinya AS terlibat dalam pengawalan. Dulu, pada 2024 dan 2025, Angkatan Laut AS bersama Uni Eropa pernah mengawal kapal dagang melintasi Laut Merah. Saat itu, ancamannya datang dari kelompok militan Houthi di Yaman. Tapi situasi di Selat Hormuz sekarang, rupanya, dianggap berbeda dan jauh lebih berbahaya.
Artikel Terkait
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier Akan Kunjungi Indonesia pada 15 Juni 2026, Perkuat Kemitraan Strategis
Polisi Amankan Dua Orang Bawa Bom Molotov Saat Hendak Susup ke Aksi Mahasiswa di Jakarta
KPK Sita Rp59 Juta, Valas, hingga Dua Mobil Porsche dari Rumah Eks Wamen Imipas Silmy Karim
Iran Konfirmasi Rancangan Nota Kesepahaman dengan AS, Bahas Selat Hormuz hingga Sanksi