PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) resmi mengantongi fasilitas pendanaan senilai Rp8,9 triliun dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau Bank BRI. Perjanjian fasilitas kredit tersebut telah ditandatangani kedua belah pihak pada 10 Juni 2026. Dana sebesar itu direncanakan untuk menopang kebutuhan modal kerja serta mendukung kelancaran operasional perusahaan.
Berdasarkan kesepakatan yang telah diteken, fasilitas kredit ini memiliki masa berlaku plafon selama 24 bulan sejak tanggal penandatanganan perjanjian. Manajemen CBUT menyatakan bahwa tambahan pendanaan ini akan memperkuat fleksibilitas keuangan perseroan dalam menjalankan aktivitas usaha sekaligus memastikan keberlanjutan operasional.
"Perjanjian kredit tersebut tidak memiliki dampak negatif yang material yang merugikan terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan," demikian pernyataan manajemen dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/6/2026).
Di sisi lain, perseroan tengah bersiap memacu kinerja dengan memanfaatkan program pencampuran 50 persen crude palm oil (CPO) ke biodiesel atau B50. Program pemerintah ini diproyeksikan menciptakan tambahan permintaan CPO, terutama minyak dengan bahan baku RDPO, Stearin, dan Olein. Kondisi itu dinilai akan mendongkrak penjualan CBUT, seiring dengan rampungnya pabrik baru pada pertengahan tahun.
Adapun pabrik Refinery & Fractionation II dengan kapasitas 1.500 ton per hari (TPD) dijadwalkan selesai pada Juli 2026. Kehadiran fasilitas anyar ini akan memperkuat kapasitas produksi eksisting CBUT yang saat ini mencapai 2.500 TPD untuk produksi refinery, Kernel Crushing Plant 600 TPD, serta Molding & Filling Plant sebesar 200 TPD.
Artikel Terkait
Phapros Bagikan 15% Laba 2025 sebagai Dividen, Sisa Dana untuk Belanja Modal
UVCR Siapkan Buyback Saham Rp1,5 Miliar untuk Program Kepemilikan Karyawan
Intiland Alokasikan Seluruh Laba 2025 untuk Perkuat Modal, Tak Bagi Dividen
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Optimalkan Kontrak Multiyears dan Diversifikasi Komoditas untuk Jaga Pertumbuhan di Tengah Tekanan Sentralisasi Ekspor