Suara ancaman dari Iran terdengar keras dan jelas. Korps Garda Revolusi Islam, atau IRGC, menyatakan mereka takkan berhenti menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Targetnya? Semua yang punya kaitan dengan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, mereka bersumpah tak akan membiarkan satu liter minyak pun bocor melewati selat sempit itu.
“Setiap kapal yang terkait AS, Israel, atau sekutunya adalah target sah,” tegas seorang juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC, Rabu lalu. Pernyataannya langsung mengguncang pasar.
Dan wajar saja. Selat Hormuz itu bukan jalur sembarangan. Ia adalah urat nadi distribusi minyak dari kawasan Teluk. Gangguan sedikit saja, gejolaknya terasa ke seluruh dunia.
IRGC sendiri sudah memproyeksikan imbasnya. Mereka menyebut harga minyak bisa melesat hingga USD 200 per barel jika selat itu ditutup. “Anda tidak bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan saja angka itu,” kata sang juru bicara, menantang.
Kenyataannya, harga minyak global memang sudah naik-turun tak karuan sejak konflik AS-Israel dengan Iran memanas. Serangan balasan dengan rudal dan drone di seluruh Timur Tengah hanya menambah ketegangan. Ditambah lagi, produksi di beberapa negara Teluk melambat. Semua faktor ini bikin investor resah.
Artikel Terkait
DPR Terima Tiga Surat Presiden Prabowo Soal RUU dan Kerja Sama Kanada
DPR Sahkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK 2026-2031
Prabowo Perketat Pengawasan BUMN dan Danantara dengan Utusan Khusus
AS Tolak Pengawalan Militer di Selat Hormuz, 10.000 Awak Kapal Terjebak