Ambil contoh untuk wilayah Jakarta. Rancangannya, tanggul raksasa akan dibangun di sisi timur dan barat. Di antara kedua tanggul itu, akan ada jembatan. Tak cuma itu, di sisi tanggul juga direncanakan waduk retensi yang kelak berpotensi jadi sumber air baku bagi ibu kota. Jadi, fungsinya multi-manfaat.
Di sisi lain, proses perencanaannya melibatkan banyak pihak. BOPPJ yang berada di bawah supervisi Kemenko Infrastruktur ini menjalin sinergi dengan para ahli dari universitas dan lingkungan hidup. Tujuannya jelas: memahami akar masalah abrasi di pesisir secara komprehensif.
Saat ini, master plan proyek masih dalam pengerjaan. Berdasarkan kajian bersama para ahli, langkah selanjutnya adalah penyusunan naskah akademik. Naskah ini akan jadi landasan perencanaan dan eksekusi proyek yang nantinya diharapkan bisa berjalan simultan di sepanjang Pantura. Peran ahli internasional juga dilibatkan di sini.
Menurut Didit, kematangan kajian akademik ini sangat krusial. Ia berkorelasi langsung dengan kesuksesan proyek nanti. Urgensinya pun jelas: melindungi masyarakat dari kerugian akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, yang memicu banjir rob hingga penurunan muka tanah.
"Ini bukan cuma soal melindungi 17 sampai 20 juta jiwa penduduk," tegas Didit.
"Tapi juga seluruh aset nasional di Pantura Jawa, yang nilainya kurang lebih mencapai 368 miliar dolar AS."
Jadi, proyek ini lebih dari sekadar membangun tembok. Ia tentang mengamankan masa depan pulau terpadat di Indonesia dari ancaman yang kian nyata.
Artikel Terkait
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke USD100 Tak Perlebar Defisit APBN
Gapensi Desak Penyesuaian Harga Proyek Imbas Kenaikan Biaya Konstruksi
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke US$100 Tak Perlebar Defisit APBN
Seratus Personel Gabungan Basmi Ikan Sapu-sapu di Kali Cideng