Senin kemarin, pasar logam mulia masih berdarah-darah. Harga emas dan perak terus merosot, melanjutkan tren buruk dari pekan lalu. Pemicunya? Kenaikan persyaratan margin dari CME Group yang seperti bensin, menyulut aksi jual yang sudah panas.
Emas spot terpangkas 4,79 persen, akhirnya bertengger di USD4.661,05 per troy ons. Padahal, di awal sesi, penurunannya jauh lebih dramatis hampir menyentuh 10 persen. Ini seperti pukulan kedua yang menyakitkan. Sejak Jumat lalu, logam kuning ini sudah anjlok 9,8 persen. Kalau dilihat dari puncak tertingginya pada 29 Januari di angka USD5.594,82, emas telah kehilangan hampir USD900. Kenaikan fantastis sepanjang tahun ini pun seolah menguap dalam hitungan hari.
“Emas dan perak sedang berada di lintasan rollercoaster. Ketika Anda sudah sampai di puncak tanjakan, gravitasi mengambil alih dan Anda meluncur turun,”
Begitu kira-kira gambaran yang diberikan John Meyer, analis SP Angel, kepada Reuters. Dan luncurannya memang curam.
Nasib perak bahkan lebih mengenaskan. Logam putih itu terjun bebas 9,2 persen ke USD76,81 per ons. Dalam sesi yang sama, ia sempat terpuruk hingga 15 persen. Ingat rekor tertingginya USD121,64 pekan lalu? Sekarang, harganya sudah menyusut sekitar 37 persen dari angka itu. Sungguh sebuah koreksi yang brutal.
Tapi, di tengah kepanikan ini, suara-suara tenang mulai muncul. Banyak analis mengingatkan, jangan buru-buru menyimpulkan ini sebagai awal dari tren bearish yang berkepanjangan. Pasar mungkin hanya butuh napas sejenak.
“Kondisinya belum tampak siap untuk pembalikan arah harga emas yang berkelanjutan,”
kata Michael Hsueh, analis logam mulia Deutsche Bank. Dalam catatannya, ia melihat investor masih sangat agresif. Mereka terus memburu peluang kenaikan. Artinya, volatilitas tinggi masih akan berlanjut, bukan berarti sentimen positif runtuh total.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Keputusan CME Group menaikkan margin pada Jumat lalu jelas jadi pemantik. Perubahan itu berlaku efektif Senin kemarin, memaksa banyak trader spekulatif untuk menutup posisi mereka. Bagi sebagian pengamat, justru ini hal yang baik. Kejatuhan tajam telah membersihkan pasar dari spekulasi berlebihan dan mendinginkan suasana yang sebelumnya terlalu panas.
“Kami melihat ada arus dana keluar dari ETF dan kami menduga sejumlah hedge fund yang berani mengambil alih posisi tersebut,”
tambah Meyer.
Faktor lain yang menekan adalah dolar AS. Indeks dolar (DXY) terus menguat, mencapai level tertingginya dalam lebih dari seminggu. Otomatis, buat pembeli di luar Amerika, emas jadi terasa lebih mahal. Dan di sisi kebijakan, pasar masih mencerna pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump. Warsh digadang-gadang menggantikan Jerome Powell di kursi The Fed bulan Mei nanti. Spekulasi pun berembus: kebijakan ke depan mungkin akan lebih condong ke pemotongan suku bunga.
Sementara dua bintang utama itu terpuruk, logam mulia lainnya juga ikut merana. Platinum spot melemah 3,3 persen, sementara palladium turun 1,4 persen. Pasar tampaknya masih butuh waktu untuk menemukan keseimbangan barunya setelah heboh beberapa pekan terakhir. Semuanya masih berlangsung sangat dinamis.
Artikel Terkait
Bitcoin Tembus Rp1,39 Miliar, Tertinggi dalam Tiga Bulan Didorong Arus Dana Institusional
BRI Gandeng Grab, Beri Diskon Belanja dan Transportasi bagi Pemegang Kartu Kredit
MNC Bank Medan Bagikan Hadiah Cashback Jutaan Rupiah Lewat Program Tabungan Dahsyat Arisan
IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen ke 7.057, Didorong Sektor Barang Baku dan Keuangan