SURABAYA Malam itu di Stadion Segiri, Samarinda, benar-benar malam yang kelam bagi Persebaya. Sabtu, 7 Maret 2026, akan diingat sebagai malam di mana Green Force dibantai Borneo FC dengan skor telak 1–5. Kekalahan ini bukan cuma soal angka di klasemen. Lebih dari itu, ia seperti membuka kotak Pandora yang memicu kembali perdebatan panas di kalangan suporter: sudah saatnya Persebaya melakukan perubahan radikal?
Lini depan, tentu saja, jadi sasaran empuk kritik.
Harus diakui, Persebaya sebenarnya sempat menciptakan peluang. Beberapa kali mereka mendesak. Tapi itu semua percuma. Hampir setiap kesempatan yang ada gagal diubah menjadi gol. Cuma satu yang berhasil. Di sisi lain, Borneo FC tampil jauh lebih dingin dan efisien. Hampir setiap serangan berbahaya mereka berbuah gol. Kontras yang menyakitkan.
Pelatih Bernardo Tavares tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Kami juga punya beberapa peluang, tetapi hanya mampu mencetak satu gol. Sekarang kami harus melihat kembali pertandingan ini dan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya dalam konferensi pers.
Ucapan itu terdengar jujur, sih. Tapi di baliknya, ada pertanyaan besar yang menggantung: apakah ini cuma masalah performa buruk di satu laga, atau memang ada yang salah secara struktural dalam skuad ini?
Isu soal kebutuhan striker baru sebenarnya sudah mengendap beberapa pekan terakhir. Konsistensi mencetak gol Persebaya dinilai masih belum memadai untuk mengejar papan atas. Nah, kekalahan memalukan di Samarinda ini kayak menyiram bensin ke bara api. Spekulasi pun langsung merembet ke bursa transfer musim depan.
Nama Ramadhan Sananta kembali mencuat.
Striker Timnas Indonesia itu sebenarnya bukan nama baru di radar Persebaya. Kabarnya, dia hampir hijrah ke Surabaya di jendela transfer paruh musim lalu. Tapi ya, itu cuma jadi rumor yang tak kesampaian. Kini, gosip itu hidup lagi. Beberapa akun pengamat transfer di media sosial bahkan sudah berani menyebut Sananta bisa saja mengenakan hijau-hitam mulai musim 2026/2027.
Spekulasi ini punya dasarnya. Yang paling kuat adalah hubungannya dengan Bernardo Tavares. Mereka pernah bekerja sama di PSM Makassar. Di bawah asuhan pelatih asal Portugal itu, Sananta berkembang pesat dan jadi salah satu penyerang muda paling menjanjikan. Kedekatan itu bisa jadi pintu masuk untuk reuni.
Faktor lain adalah situasi Sananta sendiri di DPMM FC. Performanya di liga Malaysia musim ini belum terlalu istimewa hanya dua gol dari 15 laga. Persaingan di sana juga makin ketat setelah kedatangan striker baru asal Nigeria. Belum lagi, kontraknya akan berakhir 30 Juni 2026 nanti.
Artinya, dia bisa pindah dengan status bebas transfer. Situasi yang menggiurkan buat klub mana pun, termasuk Persebaya.
Tapi ya, semua ini masih di wilayah gosip. Belum ada konfirmasi resmi dari manajemen klub. Yang jelas, pukulan dari Borneo FC tadi malam adalah cermin yang terang benderang. Ia menunjukkan betapa rapuhnya lini serangan Persebaya dan betapa tipisnya kedalaman skuad.
Apakah solusinya adalah merekrut Sananta? Atau cukup dengan penyesuaian kecil? Waktu yang akan menjawab. Buat Bonek mania, sekarang yang bisa dilakukan cuma menunggu dan berharap. Menunggu apakah rumor tentang Ramadhan Sananta ini akan jadi kenyataan, atau cuma jadi sekadar angin lalu di musim spekulasi.
Artikel Terkait
Rivalitas Segitiga Hakim Danish, Veda Ega, dan Uriarte Berkobar Lagi di Moto3 Jerez
Cedera Hamstring Ancam Partisipasi Lamine Yamal di Piala Dunia 2026
Malut United Hadang Persebaya dalam Duel Krusial Perebutan Papan Atas
Latihan Persiapan Tim Bulu Tangkis Indonesia di Denmark Resmi Ditutup