Kementerian Perindustrian punya cara baru untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai. Mereka sedang gencar mengembangkan pendidikan vokasi, dengan fokus pada program magang yang lebih terstruktur. Sistem ini, menariknya, mengadopsi model yang sudah terbukti dari Swiss.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan betapa krusialnya peran pendidikan vokasi. Menurutnya, ini bukan sekadar soal mencetak lulusan, tapi menyiapkan SDM yang benar-benar adaptif dengan kebutuhan industri nyata. Tujuannya jelas: menjaga rantai pasok nasional tetap kuat dan berkelanjutan.
“Pendidikan vokasi merupakan tulang punggung dalam mencetak sumber daya manusia industri yang kompeten, siap kerja, dan berdaya saing global. Melalui penguatan praktik kerja industri yang terstruktur, lulusan vokasi diharapkan memiliki kompetensi yang selaras dengan kebutuhan industri,” ujar Agus di Jakarta, Selasa lalu.
Jadi, apa yang berbeda? Program yang didorong Kemenperin ini mengusung sistem ganda. Praktiknya, proses belajar bakal berlangsung di dua tempat sekaligus: di kampus dan langsung di perusahaan. Harapannya, dengan pendampingan dari pelatih yang kompeten di dunia kerja, para siswa bisa merasakan langsung dinamika industri.
Di sisi lain, implementasinya sudah mulai berjalan. Doddy Rahadi, Kepala Badan Pengembangan SDM Industri (BPSDMI), mengungkapkan langkah awal sudah dimulai lewat kerjasama dengan program Swiss Skills for Competitiveness (SS4C).
“Melalui kegiatan tersebut, kami mulai mematangkan kesiapan serta praktik yang telah berjalan di berbagai satuan pendidikan vokasi di lingkungan Kementerian Perindustrian,” jelas Doddy.
Kerja sama dengan pihak Swiss ini sendiri didanai oleh Sekretariat Negara Swiss Urusan Ekonomi (SECO). Fokusnya adalah membangun sistem pendidikan vokasi yang solid, terutama untuk sektor-sektor strategis seperti logam, manufaktur, makanan, plus mebel dan perkayuan. Kolaborasi ini melibatkan politeknik dan akademi komunitas terpilih.
Sebagai bentuk komitmen, tahun lalu Kemenperin bersama SS4C bahkan sudah menerbitkan sebuah buku panduan. Buku itu berisi prosedur lengkap, mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian magang. Semua peran dan tanggung jawab setiap pihak di dalamnya dijelaskan dengan rinci. Panduan ini diharapkan bisa menjadi peta jalan yang jelas, agar program magang terstruktur ini tidak hanya wacana, tapi benar-benar terimplementasi dengan baik di lapangan.
Artikel Terkait
Sapi Limosin 1,2 Ton Bantuan Presiden untuk Iduladha di Karawang Sempat Stres Nyaris Serang Petugas
Polisi Maros Bekuk 10 Anggota Geng Motor yang Serang Warga dengan Panah dan Senjata Tajam
MNC Peduli Salurkan 450 Paket Daging Kurban untuk Warga Kedoya
Vardy Kembali Alami Degradasi, Cremonese Resmi Turun ke Serie B