Bulan Ramadan sudah di depan mata. Bagi banyak orang, ritual ngopi atau ngeteh hangat, baik saat sahur maupun berbuka, seolah sudah jadi bagian yang tak terpisahkan. Tapi, tunggu dulu. Seorang pakar gizi ternama justru mengingatkan kita untuk berpikir ulang soal kebiasaan yang satu ini.
Prof. Ali Khomsan, Guru Besar Gizi Masyarakat dari IPB, punya penjelasan yang cukup masuk akal. Intinya, masalahnya terletak pada kafein. Zat yang ada dalam kopi dan teh ini punya sifat diuretik, yang artinya merangsang ginjal untuk lebih sering membuang urine.
"Yang pertama kopi itu bersifat diuretik. Sehingga, orang yang minum kopi akan lebih banyak mengeluarkan cairan via urine," jelas Ali kepada ANTARA, Senin lalu.
Ia menambahkan, "Teh itu juga mengandung kafein tetapi mungkin tidak setinggi kopi, sehingga dampaknya terhadap sifat diuretik itu tidak sehebat seseorang minum kopi."
Nah, bayangkan saja. Di bulan puasa, kita punya waktu terbatas untuk mengisi ulang cairan tubuh. Kalau minuman favorit kita malah bikin kita bolak-balik ke kamar kecil, bukankah itu berisiko? Tubuh bisa kehilangan banyak cairan, yang ujung-ujungnya bikin kita lemas seharian. Padahal, kita butuh tetap fit untuk beraktivitas dan beribadah.
Artikel Terkait
Polisi Banten Bantu Evakuasi Anak Kejang ke Rumah Sakit
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Jakarta Pagi Ini
Serangan Energi Guncang Pasar Minyak, Indonesia Incar Pasokan Alternatif dari Rusia
Yusril Tegaskan Kasus Air Keras Aktivis KontraS Tetap di Pengadilan Militer