Pakar Gizi IPB Ingatkan Bahaya Minum Kopi dan Teh Saat Sahur dan Buka Puasa

- Selasa, 24 Februari 2026 | 11:15 WIB
Pakar Gizi IPB Ingatkan Bahaya Minum Kopi dan Teh Saat Sahur dan Buka Puasa

Bulan Ramadan sudah di depan mata. Bagi banyak orang, ritual ngopi atau ngeteh hangat, baik saat sahur maupun berbuka, seolah sudah jadi bagian yang tak terpisahkan. Tapi, tunggu dulu. Seorang pakar gizi ternama justru mengingatkan kita untuk berpikir ulang soal kebiasaan yang satu ini.

Prof. Ali Khomsan, Guru Besar Gizi Masyarakat dari IPB, punya penjelasan yang cukup masuk akal. Intinya, masalahnya terletak pada kafein. Zat yang ada dalam kopi dan teh ini punya sifat diuretik, yang artinya merangsang ginjal untuk lebih sering membuang urine.

"Yang pertama kopi itu bersifat diuretik. Sehingga, orang yang minum kopi akan lebih banyak mengeluarkan cairan via urine," jelas Ali kepada ANTARA, Senin lalu.

Ia menambahkan, "Teh itu juga mengandung kafein tetapi mungkin tidak setinggi kopi, sehingga dampaknya terhadap sifat diuretik itu tidak sehebat seseorang minum kopi."

Nah, bayangkan saja. Di bulan puasa, kita punya waktu terbatas untuk mengisi ulang cairan tubuh. Kalau minuman favorit kita malah bikin kita bolak-balik ke kamar kecil, bukankah itu berisiko? Tubuh bisa kehilangan banyak cairan, yang ujung-ujungnya bikin kita lemas seharian. Padahal, kita butuh tetap fit untuk beraktivitas dan beribadah.

Itu belum semuanya. Menurut Ali, ada efek samping lain yang perlu diwaspadai. Kafein bisa bikin kita terjaga, dan ini berpotensi mengacaukan siklus tidur. Padahal, di Ramadan, pola istirahat yang baik itu sangat krusial. Belum lagi soal kebiasaan manis-manis. Menambahkan gula berlebihan ke dalam cangkir kopi atau teh jelas bisa memicu masalah kesehatan lain jika tidak dikontrol.

Lalu, bagaimana dengan kopi susu atau teh susu yang sedang tren? Ali menjelaskan, mencampurkan susu memang tidak serta-merta menghilangkan gizinya. Hanya saja, kandungan susunya jadi tidak lagi dominan. Fungsinya lebih sebagai penyeimbang rasa ketimbang sumber nutrisi utama.

Melihat berbagai risiko itu, Ali punya saran yang lebih aman.

"Oleh karena itu memang saya lebih menganjurkan kalau ketika anda sahur, ketika anda berbuka itu minum cairan-cairan lain, mungkin dampak terhadap problem yang dihadapi tidak terlalu besar," ujarnya.

Jadi, apa solusinya? Sederhana saja. Coba utamakan air putih. Atau, kalau butuh sesuatu yang lebih, cairan elektrolit alami seperti dari buah-buahan bisa jadi pilihan yang jauh lebih bersahabat dengan tubuh yang sedang berpuasa. Dengan begitu, kebugaran dan pola istirahat kita bisa lebih terjaga selama bulan suci ini. Intinya, pilih yang tepat agar ibadah puasa berjalan lancar tanpa gangguan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar