MURIANETWORK.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mempertanyakan sikap Iran yang belum juga menyerah pada tekanan AS dalam perundingan nuklir, meskipun Washington telah mengerahkan kekuatan militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dalam sebuah wawancara media, menyusul dua putaran negosiasi yang belum membuahkan kesepakatan antara kedua negara.
Tekanan Militer dan Pertanyaan dari Gedung Putih
Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan di kawasan semakin meningkat seiring dengan diperkuatnya kehadiran militer AS. Dua gugus tempur kapal induk, didukung oleh kapal perang, ratusan jet tempur, dan pesawat pendukung lainnya, telah dikerahkan. Di tengah pengerahan kekuatan ini, Presiden Trump dilaporkan merasa penasaran dengan respons Tehran.
Melalui Steve Witkoff, Trump mempertanyakan alasan Iran belum mengambil langkah yang diharapkan Washington. Witkoff berusaha hati-hati dalam memilih kata-kata untuk menggambarkan suasana hati presiden.
"Saya tidak ingin menggunakan kata 'frustrasi,' karena dia paham benar memiliki banyak alternatif, tapi dia penasaran mengapa mereka belum... Saya sebenarnya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah,' tapi mengapa mereka belum juga menyerah," tutur Witkoff, menirukan pernyataan Trump.
Dalam kelanjutan wawancaranya, Witkoff kembali mengutip pertanyaan retoris dari atasannya. “Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan kekuatan maritim dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, ‘Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan’? Tapi, agak sulit untuk membuat mereka sampai pada titik itu," ujarnya.
Pertemuan dengan Cucu Shah dan Batas Waktu
Dinamika diplomasi ini juga terlihat dari pertemuan yang dilakukan oleh utusan Trump. Witkoff mengakui telah bertemu dengan Reza Pahlavi, cucu dari shah Iran terakhir yang digulingkan pada 1979. Pertemuan ini dilakukan atas arahan langsung Presiden Trump, meski detail pembicaraannya tidak diungkap lebih lanjut.
“Saya bertemu dengannya atas arahan Presiden,” jelasnya, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Pahlavi, yang kini bermukim di AS, baru-baru ini menyatakan kesiapannya untuk memimpin Iran menuju transisi demokratis dan sekuler. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum internasional, tidak lama setelah Trump sendiri menyebut bahwa perubahan rezim di Tehran bisa menjadi solusi terbaik.
Tekanan waktu juga semakin nyata. Presiden Trump disebutkan telah memberikan batas waktu paling lama 15 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan, sebuah ultimatum yang disampaikan pada pertengahan Februari. Dengan tenggat waktu yang mendesak dan postur militer yang telah disiagakan, langkah-langkah diplomatik ke depan akan menentukan arah dari ketegangan yang telah berlangsung lama ini.
Artikel Terkait
Petani Perkuat Pasokan Sayur Jelang Ramadan di Tengah Tantangan Cuaca Ekstrem
Mantan Agen CIA Klaim Trump Siap Serang Iran Pekan Depan di Tengah Jalur Diplomasi Aktif
Pemerintah Targetkan Cairkan THR ASN di Awal Ramadan 2026
Pemerintah Tegaskan Aturan Sertifikasi Halal untuk Produk AS Tetap Berlaku