Wall Street menutup perdagangan Kamis dengan catatan hijau. Sentimen pasar membaik setelah muncul kabar tentang upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah yang sudah berlangsung enam pekan. Kabar itu setidaknya meredakan sedikit ketegangan, terutama terkait ancaman gencatan senjata antara AS dan Iran.
Indeks Dow Jones berhasil naik 0,58 persen, menguat 275,88 poin ke level 48.185,80. S&P 500 juga ikut merangkak naik 0,62 persen ke 6.824,66. Sementara itu, Nasdaq Composite tampil lebih perkasa dengan kenaikan 0,83 persen, menutup hari di 22.822,42.
Awalnya, indeks sempat tertekan. Namun begitu, pergerakan berbalik arah setelah Israel dilaporkan mulai membuka pembicaraan dengan Lebanon. Itu yang jadi pemicu rebound.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah bergerak tak menentu sepanjang hari. Trader tampaknya masih menunggu kepastian soal kapan Iran akan membuka kembali Selat Hormuz. Kontrak berjangka WTI akhirnya ditutup naik 3,66 persen, meski harganya masih bertahan di bawah angka psikologis USD100 per barel.
Memang, lalu lintas kapal di selat vital itu anjlok drastis. Arus pengiriman hariannya sekarang kurang dari 10 persen dari rata-rata normal, sejak perang AS-Israel meletus.
Di sisi lain, data ekonomi dari dalam negeri agak campur aduk. Laporan Departemen Perdagangan menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV lebih lambat dari perkiraan. Tapi anehnya, harga konsumen tetap bandel tinggi. Situasi yang cukup dilematis.
Risalah rapat terbaru The Fed malah bikin was-was. Ternyata, para pejabat bank sentral mulai serius mempertimbangkan opsi menaikkan suku bunga lagi. Tujuannya jelas: untuk melawan dampak inflasi yang dipicu oleh perang Iran yang berkepanjangan.
Dari semua sektor di S&P 500, energi jadi penyumbang penurunan terbesar. Sebaliknya, saham-saham barang konsumen non-esensial justru merajai kenaikan.
Di lantai bursa NYSE, suasana lebih optimis. Saham yang naik jumlahnya hampir dua kali lipat dibanding yang turun, dengan rasio 1,99 banding 1. Ada 254 saham yang cetak rekor tertinggi baru, sementara 83 lainnya justru terjun ke level terendah baru.
Pergerakan serupa terlihat di Nasdaq. Sekitar 2.651 saham naik dan 2.029 turun, dengan rasio penguat lebih unggul di 1,31 banding 1.
Secara khusus, indeks S&P 500 mencatat 44 rekor tertinggi baru dalam setahun terakhir dan 19 rekor terendah. Nasdaq Composite lebih ekstrem: ada 158 rekor tertinggi baru, tapi diimbangi dengan 135 rekor terendah baru. Pasar memang sedang terpecah.
Volume perdagangan hari ini tercatat 17 miliar saham. Angka itu masih kalah dibanding rata-rata 20 hari terakhir yang sekitar 19,38 miliar saham. Mungkin banyak investor yang masih memilih menunggu di pinggir lapangan, mencari kejelasan arah.
Artikel Terkait
TUGU Gandeng Phintraco Sekuritas sebagai Liquidity Provider, Targetkan Efisiensi Perdagangan Saham
Kadin dan MEDEF Resmikan Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia-Prancis di Tengah Kunjungan Prabowo
Pendapatan Telkom Naik Tipis di Kuartal I-2026, Laba Bersih Justru Anjlok 21,7% Akibat Beban Melonjak
26 Saham Resmi Naik ke Papan Utama BEI per Mei 2026, 15 Lainnya Turun Kelas