Nama Djoni lagi-lagi ramai dibicarakan di pasar modal. Data terbaru dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 9 Januari 2026 menunjukkan, investor ini tiba-tiba muncul sebagai pemegang saham utama PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK). Porsinya cukup besar, mencapai 201 juta saham atau setara 5,09 persen.
Rincian seperti harga perolehan atau tujuan pasti di balik aksi belinya masih gelap. Tapi, langkah Djoni masuk ke jajaran pemegang saham pengendali FOLK ini jelas menambah panjang daftar portofolionya.
Ini bukan kali pertama. Sebelumnya, dia sudah tercatat memegang 5,09 persen saham PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) emiten yang masih punya hubungan dengan FOLK lewat sosok Bong Chandra.
Bong Chandra sendiri saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama FOLK. Di sisi lain, dia juga menduduki posisi Direktur di TRUE dan di PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN).
Sejak awal 2025, gerak-gerik Djoni memang jadi sorotan. Gayanya yang agresif mengakumulasi saham membuat namanya melesat muncul di posisi pemegang saham signifikan, terutama di emiten-emiten sektor teknologi dan digital.
Portofolionya cukup beragam. Selain FOLK dan TRUE, dia tercatat menggenggam 5,45 persen di PT Remala Data Abadi Tbk (DATA) dan porsi yang lebih besar, 17,43 persen, di PT Menn Teknologi Indonesia Tbk (MENN).
Masih ada lagi. Kepemilikannya merambah ke PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) sebesar 5,10 persen, PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) 5,33 persen, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) sebesar 5,28 persen. Polanya konsisten: selalu di atas batas 5 persen.
Dengan kepemilikan yang tersebar seperti itu, wajar jika langkah Djoni terus diawasi. Banyak yang mencoba menebak-nebak strategi jangka menengah seperti apa yang sedang dia bangun.
Reaksi pasar pun langsung terasa. Kabar masuknya Djoni ini mendorong saham FOLK melonjak 12,57 persen ke level Rp985. Cukup fantastis, dalam sebulan terakhir saja, saham ini sudah naik lebih dari dua kali lipat.
Multi Garam Utama sendiri, kalau menengok ke belakang, didirikan pada April 2019. Perusahaan ini bergerak di bidang ekonomi kreatif dengan fokus membangun media, merek, dan kekayaan intelektual. Target pasarnya jelas: generasi milenial dan Gen-Z.
Mereka punya slogan “Cultivating the Next Gen”. Operasional bisnisnya dijalankan melalui tiga merek ritel, yaitu Amazara, Dr. Soap, dan Syca, yang mengusung model Direct to Customer. Ketiganya diklaim telah melayani ratusan ribu pelanggan.
Tak hanya itu, perseroan mengelola lebih dari 35 kekayaan intelektual. Jangkauan ekosistemnya disebut menyentuh lebih dari 100 juta orang, terutama di kalangan usia produktif 18-45 tahun di area urban.
Semua mata kini tertuju pada Djoni. Apa lagi langkah berikutnya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp5.000 per Gram, Buyback Tetap Stagnan
Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Pinjaman IMF, Sebut Ketahanan Fiskal Masih Kuat
Astra Graphia Bagikan Dividen Rp325 Miliar, Melebihi Laba Bersih 2025
Analis Sucor Sekuritas: IHSG Mulai Tunjukkan Tanda Pemulihan Berkelanjutan