Neraca kepercayaan terhadap aset Amerika Serikat kembali diuji. Pada Selasa (13/1/2026), dolar AS masih terperosok di zona merah. Pemicunya? Langkah kontroversial pemerintahan Trump yang membuka penyelidikan kriminal terhadap Jerome Powell, sang Ketua Federal Reserve. Langkah ini bukan cuma guncangan politik biasa, tapi ancaman langsung terhadap independensi bank sentral yang selama ini jadi pilar utama.
Investor di seluruh dunia masih kebingungan, mencerna berita yang bocor Minggu malam itu. Reaksi pasar pun tak bisa dihindari: aksi jual terhadap dolar dan surat utang negara (Treasuries) langsung terjadi. Di tengah kegelisahan itu, emas dan aset aman lainnya mulai dilirik.
Namun begitu, gejolaknya ternyata masih terbilang terkendali. Tak separah kekacauan yang terjadi April lalu, saat Trump memberlakukan tarif besar-besaran. Rupanya, pasar masih berusaha tenang.
“Episode ini relatif ringan, dengan pelemahan USD dan UST yang hanya terbatas,” kata Vishnu Varathan, Kepala Riset Makro Mizuho untuk Asia di luar Jepang.
Ia menambahkan, pasar kemungkinan menilai ini sebagai bentuk ancaman yang pada akhirnya akan berlalu.
Artikel Terkait
YULE Naikkan Dividen ke Rp10 per Saham, Didukung Kinerja Keuangan 2025 yang Kuat
Pertamina Gas Rambah Bisnis Gas Industri dan Hidrogen, Ajukan Persetujuan ke RUPS
Laba Bersih Astra Graphia Melonjak 32%, Dividen Rp325 Miliar Disetujui
Indeks Sektoral Anjlok, Saham INDS Terjun 67% pada Maret 2026