Di pasar valas, Euro bertahan di level USD1,1663 di pagi hari Asia, setelah sebelumnya melonjak 0,5 persen. Pound sterling juga diam di tempat, bertengger di USD1,3463. Sementara itu, franc Swiss mendapat sedikit sentuhan positif sebagai safe haven, menguat tipis ke 0,7974 per dolar. Indeks dolar sendiri terpantau di 98,92, setelah mengalami hari terburuk dalam tiga pekan.
Di sisi lain, ada hal yang lebih mengkhawatirkan daripada fluktuasi harian. Meski ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini belum berubah drastis, langkah Trump ini membuka pertanyaan besar. Otonomi bank sentral fondasi kebijakan ekonomi AS kini di ujung tanduk.
Fitch Ratings bahkan sudah bersuara. Mereka menegaskan bahwa independensi The Fed adalah faktor kunci yang mendukung peringkat utang AS di level AA . Artinya, risiko nyata sudah di depan mata.
Pasar obligasi pun tak luput dari tekanan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sedikit melemah di hari Selasa. Yield obligasi 10 tahun terakhir berada di 4,1713 persen. Sedangkan yield obligasi dua tahun bertahan di dekat level tertinggi tiga pekan, yaitu 3,5323 persen.
Jadi, meski reaksi pasar terlihat kalem untuk sementara, sentimennya jelas sudah berbeda. Ancaman terhadap The Fed bukan cuma soal suku bunga, tapi menyentuh inti dari kredibilitas sistem keuangan Amerika sendiri. Dan itu sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh.
Artikel Terkait
Telkom Pacu Valuasi, Lepas 30% Saham InfraNexia untuk Cari Singtel Baru
Telkom Gelar Operasi Besar, 60 Anak Perusahaan Bakal Dirombak
Misterius, Djoni Kembali Beraksi: Kuasai 5,09% Saham Multi Garam Utama
53 UMKM Jakarta Barat Bersiap Serbu Ritel Modern Lewat Program Level-Up