Neraca kepercayaan terhadap aset Amerika Serikat kembali diuji. Pada Selasa (13/1/2026), dolar AS masih terperosok di zona merah. Pemicunya? Langkah kontroversial pemerintahan Trump yang membuka penyelidikan kriminal terhadap Jerome Powell, sang Ketua Federal Reserve. Langkah ini bukan cuma guncangan politik biasa, tapi ancaman langsung terhadap independensi bank sentral yang selama ini jadi pilar utama.
Investor di seluruh dunia masih kebingungan, mencerna berita yang bocor Minggu malam itu. Reaksi pasar pun tak bisa dihindari: aksi jual terhadap dolar dan surat utang negara (Treasuries) langsung terjadi. Di tengah kegelisahan itu, emas dan aset aman lainnya mulai dilirik.
Namun begitu, gejolaknya ternyata masih terbilang terkendali. Tak separah kekacauan yang terjadi April lalu, saat Trump memberlakukan tarif besar-besaran. Rupanya, pasar masih berusaha tenang.
“Episode ini relatif ringan, dengan pelemahan USD dan UST yang hanya terbatas,” kata Vishnu Varathan, Kepala Riset Makro Mizuho untuk Asia di luar Jepang.
Ia menambahkan, pasar kemungkinan menilai ini sebagai bentuk ancaman yang pada akhirnya akan berlalu.
Di pasar valas, Euro bertahan di level USD1,1663 di pagi hari Asia, setelah sebelumnya melonjak 0,5 persen. Pound sterling juga diam di tempat, bertengger di USD1,3463. Sementara itu, franc Swiss mendapat sedikit sentuhan positif sebagai safe haven, menguat tipis ke 0,7974 per dolar. Indeks dolar sendiri terpantau di 98,92, setelah mengalami hari terburuk dalam tiga pekan.
Di sisi lain, ada hal yang lebih mengkhawatirkan daripada fluktuasi harian. Meski ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini belum berubah drastis, langkah Trump ini membuka pertanyaan besar. Otonomi bank sentral fondasi kebijakan ekonomi AS kini di ujung tanduk.
Fitch Ratings bahkan sudah bersuara. Mereka menegaskan bahwa independensi The Fed adalah faktor kunci yang mendukung peringkat utang AS di level AA . Artinya, risiko nyata sudah di depan mata.
Pasar obligasi pun tak luput dari tekanan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sedikit melemah di hari Selasa. Yield obligasi 10 tahun terakhir berada di 4,1713 persen. Sedangkan yield obligasi dua tahun bertahan di dekat level tertinggi tiga pekan, yaitu 3,5323 persen.
Jadi, meski reaksi pasar terlihat kalem untuk sementara, sentimennya jelas sudah berbeda. Ancaman terhadap The Fed bukan cuma soal suku bunga, tapi menyentuh inti dari kredibilitas sistem keuangan Amerika sendiri. Dan itu sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh.
Artikel Terkait
YULE Naikkan Dividen ke Rp10 per Saham, Didukung Kinerja Keuangan 2025 yang Kuat
Pertamina Gas Rambah Bisnis Gas Industri dan Hidrogen, Ajukan Persetujuan ke RUPS
Laba Bersih Astra Graphia Melonjak 32%, Dividen Rp325 Miliar Disetujui
Indeks Sektoral Anjlok, Saham INDS Terjun 67% pada Maret 2026