Harga minyak mentah dunia yang tembus ke level sekitar USD100 per barel memang bikin was-was. Apalagi, angka itu jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang cuma USD70. Tapi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru angkat bicara dan bilang situasi ini nggak bakal bikin defisit APBN makin melebar. Kok bisa?
Menurut Bahlil, di balik kenaikan harga yang bikin subsidi energi melonjak, ada potensi pendapatan lain yang ikut terdongkrak. Sumbernya dari Pendapatan Negara Bukan Pajak atau PNBP sektor migas.
"Saya ingin mengatakan bahwa kenaikan ICP dari USD70 itu kita bisa menambah anggaran subsidi BBM, tanpa LPG, kurang lebih sekitar Rp220-230 triliun lebih,"
ujar Bahlil dalam peluncuran Buku Satya Widya Yudha di Senayan, Jakarta Selatan, Jumat lalu.
Dia lalu membeberkan hitung-hitungannya. Dengan asumsi harga minyak USD70 per barel, target PNBP migas 2026 sekitar USD10,8 miliar atau setara Rp184 triliun. Nah, kalau harga melesat ke USD100, potensi PNBP yang bisa digapai pemerintah ikut naik jadi USD17,6 miliar. Kira-kira setara Rp300 triliun, kalau pakai kurs Rp17.090 per dolar AS.
"Nah ini belum ada pendapatan dari komoditas lain," jelasnya. "Jadi sebenarnya di satu sisi naik di subsidi, tapi kita ada sumber pendapatan lain yang belum kita hitung di APBN."
Artikel Terkait
Jadwal Piala AFF U-17 2026: Australia Hadapi Brunei, Rival Langsung Indonesia
Menkeu Targetkan Skema Cukai Rokok Lokal Beroperasi Paling Lambat Mei 2026
Bupati Tulungagung Tiba di KPK Usai OTT, Langsung Jalani Pemeriksaan
Purbaya: Pemindahan Rp300 Triliun SAL ke Himbara untuk Paksa Tangan Tak Terlihat Pasar