Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke US$100 Tak Perlebar Defisit APBN

- Sabtu, 11 April 2026 | 06:35 WIB
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke US$100 Tak Perlebar Defisit APBN

Di tengah ramainya isu kenaikan harga minyak dunia, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru menyatakan sikap tenang. Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah yang tembus ke angka 100 dolar AS per barel itu tak serta-merta memperlebar defisit APBN. Kok bisa? Rupanya, ada potensi pendapatan lain yang ikut terdongkrak.

“Saya ingin mengatakan bahwa kenaikan ICP dari 70 dolar AS itu kita bisa menambah anggaran subsidi BBM, tanpa LPG, kurang lebih sekitar Rp220-230 triliun lebih,” jelas Bahlil, Jumat (10/4/2026), dalam peluncuran sebuah buku di kawasan Senayan, Jakarta.

Memang, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 cuma 70 dolar AS. Kini harganya melonjak jauh, bikin subsidi energi membengkak. Namun begitu, Bahlil melihat sisi lain dari koin yang sama. Kenaikan itu sekaligus mengerek potensi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor migas.

Dia membeberkan angka-angkanya. Dengan asumsi awal 70 dolar AS, target PNBP migas 2026 sekitar 10,8 miliar dolar AS atau setara Rp184 triliun. Nah, kalau harga bertengger di 100 dolar AS per barel, potensinya bisa melesat hingga 17,6 miliar dolar AS. Itu setara dengan Rp300 triliun, jika kurs dolar dianggap Rp17.090.

“Nah ini belum ada pendapatan dari komoditas lain,” ucapnya. “Jadi sebenarnya di satu sisi naik di subsidi, tapi kita ada sumber pendapatan lain yang belum kita hitung di APBN.”

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar