Program MBG Serap 1,5 Ton Ikan Nelayan Kaur per Bulan, Putar Ekonomi Rp90 Juta

- Minggu, 26 April 2026 | 20:45 WIB
Program MBG Serap 1,5 Ton Ikan Nelayan Kaur per Bulan, Putar Ekonomi Rp90 Juta

Agus Topo


TVRINews, Kaur

Ada kabar segar dari Kabupaten Kaur, Bengkulu. Program Makan Bergizi Gratis atau MBG ternyata nggak cuma soal perut kenyang anak sekolah. Lebih dari itu, program ini mulai menggerakkan ekonomi para nelayan di sana.

Dulu, saat hasil tangkapan melimpah, ikan tuna sering terbuang percuma. Sekarang? Sekitar 1,5 ton daging tuna dan marlin terserap setiap bulan untuk kebutuhan ribuan siswa. Bayangkan, angka yang dulu mungkin hanya jadi mimpi.

Sudah tujuh bulan terakhir, Kelompok Koperasi Nelayan Fajar Kaur Nusantara dipercaya jadi pemasok utama ikan untuk dua dapur MBG satu di Kecamatan Kaur Selatan, satu lagi di Tanjung Kemuning. Lumayan, kan?

Dampaknya juga terasa sampai ke rumah-rumah nelayan. Ambil contoh Fatmawati, istri nelayan yang kini punya penghasilan tambahan dari mengolah ikan.

"Satu kali bersihkan tuna kami diupah Rp100 ribu. Jadi seminggu kami dapat Rp200 ribu. Lumayan dibanding dulu cuma nunggu suami pulang dari laut," katanya, nada syukur terdengar jelas.

Ketua koperasi, Martin, bilang keadaan nelayan sekarang benar-benar berbalik. Dulu susah jualan, sekarang permintaan malah naik terus.

"Kami bersyukur dipercaya memasok ikan ke program MBG. Dulu kalau ikan melimpah nggak ada pembeli. Sekarang uang Rp90 juta per bulan dari MBG mengalir ke nelayan dan keluarganya," ujarnya, sambil mungkin mengingat masa-masa sulit dulu.

Sekarang, sekitar 30 nelayan dengan 11 kapal rutin melaut sejak subuh. Mereka berlayar sampai 60 mil untuk menangkap ikan. Hasil tangkapan tuna dihargai sekitar Rp60 ribu per kilogram oleh dapur MBG. Nggak main-main.

Kasmi Harasti, penanggung jawab dapur MBG Kaur, menjelaskan pihaknya menyediakan 6.710 porsi makanan setiap hari. Menu berbasis hasil laut disajikan rutin di awal pekan.

"Kaur penghasil tuna kualitas ekspor. Ikan laut penting untuk anak, proteinnya tinggi. Selain itu bisa memberdayakan nelayan. Jadi kenapa tidak manfaatkan hasil laut," katanya, dengan nada tegas.

Ahli gizi MBG, Nur Cholila Azri, ikut angkat bicara. Ikan laut, menurutnya, punya protein, kalsium, dan zinc yang penting buat tumbuh kembang anak. Ia juga memastikan data siswa dengan alergi makanan laut sudah diantisipasi. Jadi, aman.

Di sisi lain, nelayan punya harapan. Mereka ingin pemerintah membantu infrastruktur, misalnya pembangunan rumpon yang lebih dekat dari bibir pantai. Selama ini, mereka masih bergantung pada rumpon milik swasta yang jaraknya sampai 60 mil. Cukup jauh, kan?

"Kalau pemerintah buat rumpon pasti sangat membantu ratusan nelayan di Kaur ini," kata Martin, dengan nada berharap.

Riplain Suhaidi, Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Kaur, menyebut produksi hasil laut di daerah itu mencapai sekitar 5,8 juta ton per tahun. Jumlah itu melibatkan 3.200 nelayan. Pemerintah daerah, katanya, terus mendorong pemanfaatan ikan lokal untuk ketahanan pangan.

Dengan perputaran ekonomi Rp90 juta per bulan dari program MBG, roda ekonomi nelayan di Kaur kini bergerak lebih cepat. Tapi, dukungan lanjutan seperti rumpon dan fasilitas penyimpanan dingin dianggap penting untuk menjaga stabilitas pasokan ke depan. Semoga aja ada kelanjutan yang lebih baik.


Redaktur TVRINews

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags