Harga emas anjlok lebih dari empat persen pada perdagangan Rabu lalu, dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran baru terhadap kenaikan suku bunga guna mengendalikan inflasi. Penurunan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya kecemasan investor akan meluasnya konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Emas spot tercatat merosot 4,41 persen ke level 4.072,01 dolar AS per troy ons, posisi terendah sejak 23 Maret lalu. Para pelaku pasar kini menanti data ekonomi utama Amerika Serikat yang diyakini dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve, ke depan.
“Pasar sangat membutuhkan kabar baik setelah data ketenagakerjaan yang kuat pada Jumat lalu dan ancaman Presiden Trump pagi ini bahwa Iran ‘akan membayar harga’ karena tidak mau bernegosiasi,” ujar Tai Wong, seorang trader logam independen. Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa Iran telah terlalu lama bernegosiasi dan kini harus menanggung konsekuensinya. Ia bahkan mengancam akan menyerang Iran “dengan sangat keras” apabila kesepakatan damai tidak tercapai.
Situasi semakin memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Serangan itu merupakan balasan atas operasi militer Amerika terhadap target-target Iran di sekitar Selat Hormuz.
Sejak konflik bersenjata pecah pada akhir Februari, harga emas terus berada di bawah tekanan. Lonjakan harga minyak yang menyertai ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi, sekaligus mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Meskipun emas kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan sekitar 67 persen kemungkinan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,2 persen secara bulanan setelah meningkat 0,4 persen pada April.
Data Indeks Harga Produsen AS yang dijadwalkan dirilis pada Kamis diperkirakan akan menjadi petunjuk tambahan bagi investor untuk menilai arah kebijakan moneter The Fed. Di sisi lain, sejumlah analis masih melihat faktor-faktor fundamental yang mendukung harga emas dalam jangka panjang.
“Meski harga emas baru-baru ini mengalami konsolidasi, inflasi, pembelian oleh bank sentral, dan kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang masih menjadi faktor pendukung bagi emas,” tulis Paul Wong, Strategis Pasar di Sprott Asset Management, dalam sebuah catatan riset.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,8 persen menjadi 64,83 dolar AS per ons, platinum melemah 2,6 persen ke 1.681,88 dolar AS per ons, sementara paladium mencatat kenaikan tipis 0,7 persen menjadi 1.230,41 dolar AS per ons.
Artikel Terkait
CBRE Tunggu Efektif OJK, Rights Issue Ditargetkan Rampung Juni 2026
RCLO Putuskan Tidak Bagikan Dividen 2025, Laba Ditahan Demi Perkuat Bisnis Pasca-IPO
IPCC Bagikan Dividen Rp205,21 Miliar untuk Tahun Buku 2025, Naik 26 Persen
Prabowo Tegaskan Hilirisasi Jadi Jalan Utama Industrialisasi, Dorong Pengusaha Muda Bangkit