TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus

- Jumat, 10 April 2026 | 09:30 WIB
TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus

TAUD Ungkap Dugaan Operasi Terorganisir di Balik Serangan ke Andrie Yunus

Jum'at, 10 April 2026 - 08:21 WIB

JAKARTA – Aksi penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS Andrie Yunus pada pertengahan Maret lalu, ternyata bukan kejadian biasa. Tim investigasi independen kini menguak tabir yang lebih gelap. Setidaknya 16 orang diduga terlibat dalam serangan terencana itu. Temuan ini didapat dari analisis mendalam terhadap puluhan rekaman CCTV dan pelacakan kronologi kejadian.

Ravio Patra, peneliti yang ditugaskan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), membeberkan hal tersebut dalam sebuah konferensi pers di Jakarta Selatan, Kamis (9/4).

“Saya akan paparkan hasil temuan tim investigasi TAUD untuk mengungkap fakta sebenarnya tentang kasus aksi teror, percobaan pembunuhan berencana, dan penganiayaan berat yang dialami rekan kami, Andrie Yunus,” ujar Ravio.

Dari penelusurannya, 16 orang tak dikenal itu dibagi dalam empat kelompok dengan peran berbeda-beda. Ada yang jadi eksekutor langsung, pengintai dari jarak dekat maupun jauh, plus tim yang bertugas mengkoordinasi dan mengamankan pelarian.

Lima orang di antaranya diduga kuat sebagai pelaku penyiram. Sisanya, berperan dalam pemantauan dan pendukung. Yang jelas, analisis CCTV menunjukkan ini bukan aksi spontan. Semuanya terstruktur rapi, bak sebuah operasi.

“Kami pakai metode pemetaan terbalik,” jelas Ravio. “Kami telusuri mundur, dari setelah kejadian hingga beberapa jam sebelumnya.”

Dari 34 rekaman yang dianalisis, terlihat koordinasi intens antar pelaku di sejumlah titik. Kawasan Diponegoro dan sekitar gedung YLBHI jadi salah satu lokasi mereka beraktivitas sebelum serangan. Mereka berpindah posisi, berkomunikasi, seolah menunggu waktu yang tepat.

“Jelas orang-orang ini saling kenal,” papar Ravio. “Bukan orang acak. Mereka terhubung dan bergerak bersama.”

Menurut pemaparannya, korban mulai dibuntuti sejak keluar dari Gedung YLBHI. Sejumlah orang memberi kode saat Andrie mulai bergerak. Saat melintas di Salemba, dua pelaku mendekat dengan motor. Cairan keras itu pun disiramkan.

“Andrie oleng, jatuh, lalu berteriak kepanasan karena mengalami luka bakar instan,” ungkap Ravio.

Dampak cairannya sungguh mengerikan. Baju dan tas meleleh. Singlet di tubuh Andrie melepuh. Bahkan beberapa bagian motor ikut rusak. “Se-kuat itu cairan yang disiramkan,” katanya.

Yang menarik, tim investigasi menduga pelaku juga kecipratan. Rekaman menunjukkan mereka berhenti sejenak usai kejadian untuk membilas tangan dan wajah dengan air mineral. Sebuah detail yang menguatkan betapa berbahayanya zat yang mereka bawa.

Di sisi lain, kendaraan yang digunakan sebagian teridentifikasi sebagai milik warga sipil. Hal ini memperkuat spekulasi adanya keterlibatan unsur nonmiliter dalam operasi ini.

Namun begitu, TAUD menegaskan semua temuan ini masih awal. Mereka mengakui keterbatasan sebagai masyarakat sipil. “Ini bukan hasil final. Kami tentu tidak bisa menjangkau seluruh wilayah Jakarta,” kata Ravio. Pendalaman lebih lanjut mutlak diperlukan oleh aparat penegak hukum.

Sementara itu, anggota TAUD Afif Abdul Qoyim menyoroti lambannya penanganan kasus ini. Baginya, ini jadi sinyal kuat perlunya pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen.

“Perlu TGPF yang punya legitimasi hukum kuat, melibatkan berbagai elemen, termasuk masyarakat sipil,” tegas Afif.

Dugaan operasi terorganisir kini menggantung. Menunggu tindak lanjut yang serius, agar terang benderang siapa dalang di balik kekerasan yang nyaris merenggut nyawa itu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar