Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar, Pasar Waspadai Data Inflasi AS

- Jumat, 10 April 2026 | 07:30 WIB
Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar, Pasar Waspadai Data Inflasi AS

Harga emas dunia kembali menunjukkan kekuatannya pada Kamis (9/4/2026). Penguatan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya nilai tukar dolar AS, sebuah kombinasi yang langsung menarik perhatian para pelaku pasar.

Di sisi lain, sentimen investor tampak masih bercampur. Mereka mencermati dengan seksama perkembangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran yang dinilai rapuh. Tidak hanya itu, ada juga antisipasi menunggu rilis data inflasi AS yang akan datang.

Pada perdagangan hari itu, harga emas spot tercatat naik 0,98 persen ke level USD 4.765,40 per troy ons. Posisi ini mengikuti kenaikan signifikan sehari sebelumnya, di mana emas sempat menyentuh level tertingginya dalam hampir tiga pekan. Pelemahan indeks dolar AS jelas memberi angin segar, membuat logam kuning ini jadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.

Bob Haberkorn, analis senior pasar di RJO Futures, memberikan komentarnya.

“Dolar yang lebih lemah telah membantu emas kembali menemukan pijakannya,” katanya.

Namun begitu, ia menambahkan catatan kehati-hatian. “Tapi ada kehati-hatian di pasar karena pelaku mencoba menafsirkan arti gencatan senjata tersebut.”

Menurutnya, berita gencatan senjata sebenarnya sangat bullish bagi emas. Hanya saja, harganya sudah terkoreksi dari level puncak karena mulai terlihat celah-celah dalam kesepakatan itu.

Dan celah itu memang terlihat. Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan di Lebanon, sebuah wilayah yang menurut Iran harus masuk dalam kesepakatan gencatan. Sementara itu, belum ada tanda-tanda Teheran mencabut blokadenya di Selat Hormuz. Situasi yang rawan ini membuat semua orang tegang.

Kalau negosiasi sampai gagal dan konflik kembali memanas, risikonya besar. Biaya energi bisa melonjak dan mendorong inflasi. Pada akhirnya, Federal Reserve mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ini paradoks bagi emas. Di satu sisi, ia jadi lindung nilai inflasi. Di sisi lain, suku bunga tinggi justru menekan daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Lalu, prospek ke depan bagaimana? Morgan Stanley memprediksi harga emas akan cenderung stabil sampai kuartal II-2026. Penguatan baru diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun ini.

“Jika kenaikan suku bunga The Fed dapat dihindari, kami menilai emas bisa kembali menguat,” tulis analis mereka. Penyelesaian konflik juga akan jadi faktor pendukung, karena fokus pasar kemungkinan besar akan kembali ke pelemahan nilai mata uang fiat.

Nah, pasar sekarang sedang menunggu. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk Maret akan dirilis Jumat besok. Ini jadi penanda penting. Sebelumnya, indeks PCE tolok ukur inflasi favorit The Fed telah naik 2,8 persen pada periode 12 bulan hingga Februari, sesuai ekspektasi. Banyak yang menduga angka untuk Maret akan lebih tinggi lagi.

Sementara emas merangkak naik, logam mulia lainnya justru melesat. Perak spot meroket 2,9 persen ke USD 76,24 per ons. Platinum bahkan melonjak 3,8 persen ke level USD 2.106,01. Paladium juga menguat, meski lebih moderat di 0,3 persen, menjadi USD 1.558,75 per ons. Pasar memang selalu punya kejutan sendiri.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar