Bayangkan seorang pelukis buta warna melukis pelangi. Mustahil, kan? Anggapan serupa sering kita lekatkan pada musisi tuli. Tapi coba ingat Ludwig van Beethoven. Simfoni-simfoninya yang paling menggugah justru lahir saat pendengarannya hilang sama sekali. Paradoks ini bikin kita berpikir ulang: apa sih sebenarnya musik itu? Apakah cuma soal suara yang masuk ke telinga, atau ada sesuatu yang lebih dalam?
Nah, ambil contoh Evelyn Glennie. Perkusionis asal Skotlandia ini tuli, tapi lihatlah ia di atas panggung. Seringkali ia tampil tanpa alas kaki, membiarkan telapak kakinya merasakan setiap dentuman drum. Getarannya merambat dari lantai, melalui tulang, sampai ke seluruh tubuhnya. Bagi Glennie, musik bukan cuma urusan kuping. Itu adalah pengalaman fisik total, sebuah perjalanan sensorik yang melibatkan segala yang kita punya.
Pada dasarnya, musik itu cuma getaran dan pola. Beethoven mungkin kehilangan pendengarannya, tapi pemahamannya tentang harmoni, ritme, dan melodi tetap utuh di kepalanya. Ia "mendengar" lewat matanya yang menatap partitur, lewat jarinya yang menekan tuts piano hingga kayunya beresonansi. Musik baginya telah berubah jadi bahasa visual, sebuah pengalaman kinestetik yang jauh melampaui sekadar suara.
Di sisi lain, masyarakat kita kerap terjebak dalam kotak-kotak: sempurna versus cacat, normal versus tidak. Kita memuja Mozart yang bisa mencipta di usia lima tahun, tapi meragukan kemampuan orang tuli untuk mencintai musik. Padahal, batasan itu cuma ilusi. Ambil analogi seorang fotografer yang buta. Ia tak melihat cahaya, tapi merasakan kehangatan matahari di kulitnya. Ia menangkap momen lewat intuisi, menyusun komposisi dari memori visual yang tersisa. Kreativitas selalu menemukan jalannya.
Teknologi sekarang makin mendukung. Ada alat seperti Subpac yang mengubah suara jadi getaran haptik yang bisa dirasakan di punggung. Software visualisasi menerjemahkan nada menjadi ledakan warna dan bentuk yang menari di layar. Intinya, musik bukan lagi wilayah eksklusif bagi mereka yang bisa mendengar. Ia jadi medan eksplorasi bagi siapa saja yang peka terhadap ritme dan pola.
Seniman Christine Sun Kim, misalnya. Perempuan tuli asal Amerika ini mengeksplorasi suara lewat kanvas. Lukisannya memvisualisasikan suara sebagai garis-garis tegas dan bentuk-bentuk abstrak. Karyanya mempertanyakan asumsi kita: benarkah musik harus didengar untuk dinikmati? Ia memaksa kita melihat dari sudut pandang baru, bahwa bunyi bisa jadi fenomena yang melampaui batas biologis.
Artikel Terkait
68 Perusahaan di Sumatera Terkena Sanksi, 28 Izin Terancam Dicabut Akibat Diduga Picu Bencana
Menkeu Purbaya Buru Triliunan Rupiah dari Celah Pajak Kapal Asing
FOMO atau Penasaran? Dilema Gen Z di Tengah Hiruk-Pikuk Tren
Hujan Tunda Perbaikan Jalan, Lubang di Jakarta Masih Mengintai