Bahkan, konflik ini merambah ke ranah hukum. Pada 11 Januari lalu, Powell mengungkap bahwa ia sedang diselidiki Departemen Kehakiman terkait proyek renovasi kantor pusat The Fed yang menelan biaya fantastis, 2,5 miliar dolar AS. Ia mengecam keras ancaman tuntutan pidana itu, menyebutnya sebagai akibat dari kebijakan yang dibuat untuk kepentingan publik, bukan untuk menyenangkan presiden.
Trump tak hanya menyasar Powell. Upaya untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook juga sedang ia kejar, memicu pertarungan hukum yang berpotensi mengubah peta kekuasaan. Intinya: seberapa besar kewenangan seorang presiden untuk mengubah pimpinan The Fed?
Secara hukum, presiden hanya bisa memecat anggota dewan gubernur "karena alasan tertentu" biasanya diartikan sebagai pelanggaran atau kelalaian tugas berat. Tapi administrasi Trump sepertinya ingin menafsirkan klausa itu lebih longgar, dengan mendasarkan pemecatan Cook pada tuduhan penipuan hipotek yang dibantahnya sendiri.
Mahkamah Agung baru saja mendengarkan argumen soal kasus ini pekan lalu. Pasca persidangan, Cook menegaskan kembali pentingnya menjaga The Fed dari intervensi politik.
Di tengah semua keributan politik itu, analis melihat dilema The Fed justru agak mereda. Michael Pearce dari Oxford Economics bilang, data terkini membuat mereka sedikit lega.
"Risiko terhadap pasar tenaga kerja tampaknya kurang mendesak dibanding beberapa bulan lalu. Di sisi lain, ancaman kenaikan inflasi juga terlihat mereda," ujarnya dalam sebuah catatan analisis.
Artikel Terkait
Waspada, Banjir Bawa Ancaman Tersembunyi: Listrik!
Layvin Kurzawa Resmi Gabung Persib, Bek Eks PSG Itu Pilih Petualangan Baru di Bandung
Remaja Tewas Terseret Arus Deras Ciliwung Saat Berenang
Dapur Umum SDN 1 Pasirlangu: 4.500 Porsi Harapan di Tengah Puing Longsor