Faktor lain adalah perlindungan terhadap sekutu. Penempatan kapal induk dan kapal perusak, yang dilengkapi jet tempur canggih seperti F-35 dan F-18, punya misi jelas: menjaga kepentingan AS dan kawan-kawannya di kawasan jika situasi benar-benar meledak.
Bagaimana tanggapan Iran? Sangat keras, tentu saja.
Peringatan seperti itu bukan main-main. Ini mempertegas risiko bahwa perang urat saraf bisa berubah jadi baku tembak nyata hanya karena satu kesalahan kecil dari kedua belah pihak.
Jadi, apakah ini sinyal perang atau cuma gertakan belaka? Banyak pengamat meyakini ini lebih ke perang psikologis ala Trump. Belum tentu akan ada serangan militer langsung dalam waktu dekat. Retorika keras AS sebelumnya sempat mereda ketika demo di Iran mengendur, menunjukkan bahwa tekanannya bersifat situasional.
Intinya, perang terbuka antara AS dan Iran masih jauh dari kepastian. Tapi langkah Trump kali ini menyampaikan pesan yang gamblang: Washington tak ragu menggunakan kekuatan militernya sebagai alat politik. Entah untuk menekan, atau sekadar menambah bobot di meja perundingan. Semuanya tergantung pada langkah Iran selanjutnya.
Artikel Terkait
OJK Izinkan 10 Bank Daerah Bergabung ke Dalam Empat Kelompok Usaha
Emas Antam Tembus Rp2,9 Juta, Rekor Baru Tercipta di Awal Pekan
Jembatan Penghubung JIS-Ancol Diresmikan, Targetkan Konser Kelas Dunia di Ibu Kota
Kuta Bukan Sekadar Destinasi: Sebuah Ruang Jeda di Tengah Dunia yang Terlalu Cepat