Telkom Konsolidasikan Aset Fiber BUMN Lain ke InfraNexia untuk Dongkrak Pasar

- Kamis, 12 Maret 2026 | 15:40 WIB
Telkom Konsolidasikan Aset Fiber BUMN Lain ke InfraNexia untuk Dongkrak Pasar

Jakarta, Rabu malam lalu, suasana buka puasa di sebuah restoran ibukota justru jadi momen penting bagi dunia telekomunikasi. Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom Indonesia, membuka sedikit tabir rencana besar untuk anak usahanya, InfraNexia. Intinya? Perusahaan itu bakal kebanjiran aset.

Bukan sembarang aset, melainkan infrastruktur fiber optik yang selama ini dioperasikan berbagai BUMN lain di bawah payung Danantara. "Ya, arahannya dari Danantara bagaimana kalau kami melakukan kajian supaya aset fiber yang ada di BUMN lain bisa dikonsolidasikan," ujar Dian.

Jadi, InfraNexia akan jadi wadah penampungan. Ini langkah strategis yang sebenarnya bagian dari upaya konsolidasi bisnis yang sudah lama digodok.

Namun begitu, konsolidasi internal cuma langkah awal. Dian membeberkan, tahun ini fokusnya adalah membentuk InfraNexia menjadi apa yang disebutnya 'Fiber Co'. Maksudnya, perusahaan harus lebih efisien, punya kemampuan manajemen aset yang mumpuni, dan yang tak kalah penting: agresif menjual layanan ke pihak di luar Telkom Group.

Setelah semua aset terkumpul dan organisasi beres, barulah ekspansi besar dimulai. Perusahaan akan memburu mitra kerja, baik dari dalam negeri maupun luar. Opsi lain yang juga terbuka adalah go public, melepas saham ke publik lewat pasar modal.

Semua gerakan ini, kata Dian, tak lepas dari peta jalan besar bernama TLKM 30. Strategi transformasi jangka menengah hingga 2030 itu dirancang untuk mendongkrak kinerja dan daya saing Telkom di kancah global. Ada empat pilar bisnis yang jadi tumpuan: bisnis ritel (B2C) lewat Telkomsel, bisnis infrastruktur B2B (menara, fiber, data center), bisnis internasional, serta layanan IT.

Lantas, apa dampak langsungnya? Budi Satria Dharma Purba, Direktur Wholesale & International Service Telkom, memberikan gambaran yang cukup jelas.

"Saat ini, revenue Telkom dari jasa layanan fiber optik dari eksternal sekitar 15 persen. Setelah spin-off InfraNexia, kami targetkan naik menjadi 25 persen," jelas Budi.

Angka itu menunjukkan ambisi mereka. Spin-off bisnis fiber ke InfraNexia bukan sekadar pemindahan tata kelola, tapi sebuah langkah ofensif untuk merebut porsi pasar yang lebih besar. Jika rencana ini berjalan mulus, InfraNexia tak lagi sekadar anak perusahaan, melainkan pemain utama di papan catur infrastruktur digital nasional.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar