Wall Street Melemah: Aksi Ambil Untung Teknologi dan Konflik AS-Iran Tekan Indeks, S&P 500 Masuki Zona Koreksi

- Kamis, 11 Juni 2026 | 06:45 WIB
Wall Street Melemah: Aksi Ambil Untung Teknologi dan Konflik AS-Iran Tekan Indeks, S&P 500 Masuki Zona Koreksi

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (10/6/2026), dengan seluruh indeks utama terkoreksi lebih dari satu persen. Pelemahan ini dipicu oleh aksi ambil untung di sektor teknologi, meningkatnya kekhawatiran atas konflik AS-Iran, serta ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat turun 953,33 poin atau 1,87 persen ke level 49.918,78. S&P 500 merosot 119,66 poin atau 1,62 persen menjadi 7.266,99, sementara Nasdaq Composite jatuh 509,32 poin atau 1,98 persen ke posisi 25.169,50.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi. Indeks semikonduktor ambles hingga 3,6 persen, dengan saham Nvidia dan Broadcom menjadi pemberat utama bagi S&P 500. Secara keseluruhan, sektor teknologi S&P 500 kini telah turun 11 persen dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada 2 Juni, sehingga resmi memasuki wilayah koreksi.

Ahli strategi investasi US Bank Wealth Management, Tom Hainlin, menilai investor masih melakukan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan. Menurutnya, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi setelah sejumlah data ekonomi terbaru dirilis.

“Investor masih mengambil keuntungan di sektor teknologi dan kini mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi. Selain itu, kekhawatiran terhadap perang juga ikut membebani pasar,” ujarnya.

Sentimen negatif semakin diperburuk oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Iran apabila tidak tercapai kesepakatan damai. Hainlin memperkirakan konflik tersebut berpotensi berlanjut hingga pertengahan atau akhir musim panas tahun ini.

“Konflik tersebut mungkin berlanjut hingga pertengahan atau akhir musim panas,” katanya.

Di sisi lain, saham perusahaan logistik seperti XPO, JB Hunt, dan Old Dominion ikut tertekan setelah Amazon mengumumkan ekspansi layanan angkutan barang less-than-truckload di AS. Akibatnya, sektor industri menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah turun 3,4 persen.

Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS naik 4,2 persen secara tahunan pada Mei 2026, level tertinggi sejak April 2023. Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu pendorong utama inflasi. Meski demikian, angka tersebut masih sejalan dengan perkiraan para ekonom.

Setelah penutupan pasar, saham Oracle turun sekitar satu persen usai merilis laporan keuangan. Sementara itu, saham Super Micro Computer anjlok 28 persen setelah perusahaan mengumumkan rencana penghimpunan dana sebesar tujuh miliar dolar AS melalui penerbitan saham dan instrumen terkait ekuitas. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembelian komponen bagi bisnis server kecerdasan buatan yang terus berkembang.

Di pasar yang lebih luas, saham yang turun masih mendominasi. Di NYSE, jumlah saham yang melemah melampaui saham yang menguat dengan rasio 1,87 banding satu. Sementara di Nasdaq, rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,77 banding satu. Volume transaksi di bursa AS mencapai 20,7 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 20,6 miliar saham.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar