Konflik Timur Tengah 2026 Pukul Pariwisata Indonesia, Penerbangan dan Kunjungan Wisatawan Anjlok

- Kamis, 12 Maret 2026 | 15:45 WIB
Konflik Timur Tengah 2026 Pukul Pariwisata Indonesia, Penerbangan dan Kunjungan Wisatawan Anjlok

Gejolak di Timur Tengah, yang memanas sejak akhir Februari 2026, ternyata tak cuma jadi berita utama di TV. Gelombang kejutnya sampai juga ke Indonesia, dan sektor pariwisata kita merasakan dampaknya dengan cepat. Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran itu bikin ruang udara beberapa negara ditutup. Akibatnya? Mobilitas wisatawan internasional langsung kacau.

Kita tahu, industri pariwisata kita masih sangat menggantungkan diri pada kedatangan wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa dan Timur Tengah sendiri. Tekanannya jadi luar biasa. Tulisan ini mencoba mengurai dampaknya, mulai dari soal transportasi yang kocar-kacir, turunnya angka kunjungan, sampai upaya pemerintah dan pelaku usaha untuk bertahan.

Penerbangan Lumpuh, Turis Terjebak

Dampak paling langsung tentu di sektor penerbangan. Penutupan ruang udara di Iran, Irak, Qatar, UEA, dan Arab Saudi memaksa maskapai membatalkan atau menunda ratusan jadwal. Ini langsung memutus koneksi vital antara Indonesia dan Eropa, yang selama ini mengandalkan hub di Dubai, Doha, atau Abu Dhabi.

Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, situasinya cukup parah. Dalam hitungan hari awal Maret, puluhan penerbangan internasional dibatalkan. Maskapai-maskapai besar seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways terpaksa meng-ground pesawatnya. Ribuan calon penumpang terdampak. Data terbaru menyebut, dari 28 Februari hingga 4 Maret saja, total 35 penerbangan internasional di Bali batal beroperasi.

Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang tak kalah kalut. Dalam satu hari, 22 penerbangan rute Timur Tengah dibatalkan. Angkanya terus membengkak, dan terakumulasi hingga awal Maret sudah mencapai lebih dari 100 pembatalan.

Yang repot bukan cuma turis asing yang mau datang ke sini. Wisatawan Indonesia dan pekerja migran kita yang sedang berada di kawasan konflik juga terjebak. Banyak WNI dilaporkan tertahan di Doha dan Amman, tak tahu kapan bisa pulang. Imbasnya, harga tiket pesawat dari rute alternatif melonjak gila-gilaan. Ada laporan tiket Garuda Indonesia dari Arab Saudi ke Jakarta cuma tersedia kelas bisnis, dengan harga selangit di angka Rp 21 juta per kursi. Sungguh di luar nalar.

Jumlah Wisatawan Asing Menyusut

Kekacauan transportasi udara ini, ya sudah pasti, berimbas pada angka kedatangan. Bisnis pariwisata Indonesia diprediksi bisa merosot hingga 30% jika konflik berlarut. Wisatawan Eropa, yang biasa transit mulus di Timur Tengah, kini harus putar otak mencari rute lain lewat Singapura, Malaysia, atau Thailand. Perjalanan jadi lebih lama dan lebih mahal, yang ujung-ujungnya bikin mereka berpikir ulang untuk liburan ke Bali atau Lombok.

Bali, barometer pariwisata kita, sudah merasakan dampak empirisnya. Dalam empat hari pertama konflik, kunjungan wisatawan mancanegara turun rata-rata 800 orang per hari. Penurunan paling tajam terlihat dari wisatawan Timur Tengah. Belajar dari pengalaman konflik Rusia-Ukraina dulu, okupansi hotel nasional bisa anjlok dari 60% ke 40%. Situasi kali ini berpotensi serupa.

Efek Domino ke Seluruh Rantai Pariwisata

Turunnya jumlah wisatawan asing punya efek domino yang luas. Sektor perhotelan, restoran, transportasi darat, sampai pedagang kecil di destinasi wisata semuanya ikut merasakan sentakannya. Tapi ada satu pukulan tidak langsung yang signifikan: kenaikan harga avtur.

Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat harga minyak mentah global meroket. Akibatnya, biaya operasional maskapai pun membengkak. Kenaikan harga tiket pesawat tinggal menunggu waktu, dan itu akan semakin menekan minat orang untuk traveling.

Ketidakpastian geopolitik ini juga mengganggu ekspor produk-produk lokal yang biasa diburu turis, seperti kerajinan tangan atau makanan khas. Durasi konflik akan menentukan seberapa dalam luka ekonominya. Pemerintah disebutkan terus memantau situasi, sambil bersiap menghadapi skenario terburuk.

Sektor Ibadah Juga Terhantam

Konflik ini juga memberikan pukulan telak bagi perjalanan umrah. Ratusan ribu jemaah Indonesia tiap bulannya bergantung pada penerbangan yang melintasi kawasan itu. Penutupan ruang udara memaksa pembatalan penerbangan ke Arab Saudi.

Menurut lembaga kajian Prasasti Center for Policy Studies, jika pembatasan ini berlangsung lama, dampaknya akan merembet ke pertumbuhan ekonomi domestik. Ekosistem ekonomi di sektor umrah itu sangat besar.

Calon jemaah kini dihimbau untuk menunda keberangkatan. Sementara yang sudah di Tanah Suci pun kesulitan pulang karena penerbangannya dibatalkan. Kerugian materiil bagi jemaah dan penyelenggara perjalanan ibadah jelas ada. Tapi dampak psikologis dan kecemasan di masyarakat juga tak bisa dianggap enteng.

Langkah Pemerintah: Reposisi Pasar dan Cari Hub Alternatif

Menghadapi situasi ini, pemerintah lewat kementerian terkait mulai bergerak. Strategi utamanya adalah reposisi pasar. Alih-alih fokus ke Eropa yang terganggu, promosi kini diperkuat di kawasan Asia dan Pasifik.

Langkah ini masuk akal. Data tahun 2025 menunjukkan, lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia justru dari Asia-Pasifik: Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste. Pasar seperti India, Jepang, dan Korea Selatan juga jadi target andalan di tengah krisis.

Di sisi konektivitas, gangguan operasional penerbangan disebutkan mulai berkurang. Banyak turis yang beradaptasi dengan rute alternatif via Malaysia, Singapura, atau Hong Kong. Pemerintah juga berkoordinasi dengan maskapai untuk menangani penumpang yang terdampak pembatalan. Untuk mengamankan pasokan energi, Pertamina dikabarkan telah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi AS seperti Chevron dan Exxon, sebagai upaya diversifikasi pasokan minyak dari luar Timur Tengah.

Intinya, konflik Februari 2026 ini jadi pengingat keras betapa rentannya pariwisata terhadap gejolak global. Ketahanan sektor ini ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan kita mendiversifikasi pasar dan membangun konektivitas yang tidak tergantung pada satu kawasan saja. Kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat menjadi kunci untuk bisa bertahan dan bangkit kembali.

Hendra Manurung.
Dosen Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI).

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar