DAVOS Dunia saat ini, menurut Presiden Prabowo Subianto, sedang bergulat dengan ketidakpastian yang mendalam. Di tengah situasi seperti itu, dia menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas bukanlah sekadar pilihan, melainkan fondasi mutlak. Tanpa kedua hal itu, mustahil membangun kemakmuran global yang bisa bertahan lama.
“Sejarah mengajarkan kita bahwa perdamaian dan stabilitas adalah aset kita yang paling berharga,” ujar Prabowo. “Perdamaian dan stabilitas adalah prasyarat utama untuk pertumbuhan dan kemakmuran. Tidak akan ada kemakmuran tanpa perdamaian.”
Pernyataan itu disampaikannya dalam pidato kunci di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis lalu. Forum yang dihadiri para pemimpin dunia dan pelaku bisnis internasional itu menjadi panggung bagi Prabowo untuk memaparkan kondisi Indonesia.
Dan kinerjanya ternyata cukup mengesankan. Di tengah ancaman resesi global, ketegangan perdagangan, dan gejolak politik di mana-mana, Indonesia justru disebut sebagai ‘titik terang’. Itu bukan klaim kosong, melainkan penilaian langsung dari Dana Moneter Internasional (IMF).
“IMF baru-baru ini menggambarkan Indonesia sebagai, saya kutip, ‘titik terang global dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah lingkungan eksternal yang menantang’,” ungkap Prabowo kepada para hadirin.
Memang, angka-angkanya berbicara. Inflasi berhasil dikendalikan di sekitar 2 persen. Sementara defisit anggaran pemerintah berhasil ditekan hingga di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto. “Defisit pemerintah kita sekarang dijaga di bawah 3 persen dari PDB kita,” katanya.
Namun begitu, Prabowo menegaskan bahwa pengakuan internasional ini bukanlah hasil dari keberuntungan atau retorika belaka. Semua itu didukung oleh kebijakan yang terukur dan konsisten. “Mereka menyadari bahwa ekonomi Indonesia tangguh. Kebijakan-kebijakan kami telah dan akan selalu terkalibrasi dengan baik,” tegasnya.
Di sisi lain, stabilitas yang dinikmati Indonesia selama ini juga bukan kebetulan. Itu adalah buah dari pilihan politik yang jelas, yaitu komitmen pada persatuan dan kerja sama. Prabowo juga menyentuh soal kredibilitas, sesuatu yang sangat dijaga Indonesia di mata dunia.
“Sepanjang sejarah Indonesia, kita tidak pernah sekalipun gagal membayar utang. Tidak sekali pun,” tuturnya dengan nada tegas.
Pidato itu pada akhirnya bukan sekadar laporan kinerja. Lebih dari itu, ia menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang diandalkan sebuah mitra yang kredibel, yang menjunjung tinggi tata kelola bertanggung jawab di panggung diplomasi dan ekonomi global.
Artikel Terkait
Bupati Lampung Tengah Nonaktif Ardito Wijaya Dipindahkan ke Lapas Lampung Jelang Sidang Perdana
Kanselir Jerman Kecam AS dan Israel karena Meremehkan Kekuatan Iran
Transjakarta Sediakan Shuttle Gratis untuk Penumpang KRL Terdampak Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Lima Tim Kuda Hitam yang Siap Jadi Kejutan di Piala Dunia 2026